Anda dapat mengajar anak-anak Anda bahwa berlaku adil berarti lebih dari sekedar berbuat benar dan adil. Secara aktif mengupayakan keadilan berarti memperbaiki yang salah, untuk mengimbangi pelecehan, berjuang demi tujuan yang baik, dan membawa martabat manusia ke dalam dunia yang bertujuan baik namun tidak sempurna ini.
Kalau Anda dapat mengajar anak-anak Anda bahwa orang yang beretika tahu bahwa semua orang diciptakan setara, bahwa setiap manusia punya nilai yang tak terbatas, mereka tidak akan membuat kesalah seperti di bawah ini:
Pendeta sebuah gereja berencana menyuruh para penerima tamu menyapa orang-orang seusai upacara di hari minggu.
Namun atasannya meyakinkan dirinya agar dia sendiri yang menyapa mereka dengan mengatakan, “Apakah Anda sadar bahwa Anda tidak mengenal beberapa orang anggota gereja Anda sendiri?”
Pada hari minggu berikutnya, setelah upacara selesai, pendeta itu berdiri di depan pintu gereja. Orang pertama yang keluar dari gereja adalah seorang wanita yang berpakaian sangat sederhana, yang nampaknya tidak cocok berada dilingkungan modern seperti itu.
“Apa khabar?” sapa pendeta itu. “Selamat datang. Kami sangat senang Anda ada bersama kami hari ini.”
“Terima kasih,” kata wanita itu, agak bingung.
“Ku harap kami akan sering berjumpa Anda dalam upacara selanjutnya. Kami selalu gembira berjumpa dengan wajah-wajah baru.”
“Ya pak.”
“Apa ibu tinggal di sekitar sini?” Wanita itu nampak kehilangan kata-kata.
“Kalau ibu memberikan alamat ibu, saya akan senang menelpon ibu suatu sore nanti,” kata pendeta itu dengan hangat.
“Bapak tidak perlu pergi jauh-jauh,” wanita itu menjawab. “Saja koki bapak.”
Maka kemudian pendeta itu merasakan kebutuhan akan kekuatan sebuah doa, yang bisa saja merupakan doa anak-anak Anda: “…. Tuhan, bukalah mata saya, sehingga bisa benar-benar melihat…..”
———-

