Kesaksian: Penyembuhan Jarak Jauh

Tiga contoh penyembuhan jarak jauh yang spektakuler

Oleh: E. Suhardo

Kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh yang penuh tanggung jawab, hasil penyembuhan jarak jauh tidak kalah dengan penyembuhan tatap muka. Puluhan pasien saya yang tergolong berpenyakit serius dan berbahaya dapat sembuh dengan terapi jarak jauh. Berikut ini saya sampaikan tiga contoh keberhasilan penyembuhan jarak jauh.

  • Ibu E (29 th) dari Lampung yang mempunyai dua anak mengalami gangguan di perutnya. Setiap saat dia merasa mau ke belakang (toilet). Menurut hasil laboratorium limfe-nya terganggu. Dia sudah pergi ke dua dokter spsesialis penyakit dalam tetapi penyakitnya tak kunjung sembuh. Malahan dia dirujuk ke dokter kandungan (ginekolog) dan rasa sakitnya tidak berkurang. Kemudian ibu ini menelepon saya dan saya minta untuk mengirimkan foto seluruh tubuh. Terapi pertama tubuhnya terasa amat ringan. Dia merasa takut dan mengira ajalnya segera tiba. Sambil menangis tersedu-sedu kedua anaknya dipeluknya erat-erat. Hari kedua dan seterusnya badannya terasa semakin enak. Perutnya sudah tidak sakit lagi, frekuensi buang air besar sudah sangat berkurang bahkan akhirnya normal kembali. Dia merasa sembuh. Pada akhir suratnya ibu ini menulis, “Pak, saya ini seperti orang mati yang hidup kembali”. Hati saya terharu penuh syukur.
  • Bapak AT (45 th) di Bajawa, Flores menderita penyakit kulit yang sudah lama sekali. Kalau kena sinar matahari kulitnya menebal dan kalau kering mengelupas. Namun penyakitnya tidak menimbulkan gatal-gatal. Dokter kulit sudah memvonisnya kalau penyakitnya tidak dapat sembuh. Dia sudah putus harapan. Setelah diterapi prana sebanyak 10 kali penyakit kulitnya sembuh total. Dia sudah berani keluar siang hari.
  • Seorang Imam menderita kanker paru-paru. Dokter di Belanda menyatakan bahwa beliau hanya dapat bertahan hidup tiga bulan lagi. Beliau juga sudah melakukan terapi di berbagai penyembuh alternatif, tetapi hasilnya tidak terasa. Beliau sangat terpukul dan putus asa. Beliau minta kembali ke rumah orang tuanya dan tidak mau lagi tinggal di biara. Ketika saya kunjungi di desanya kondisinya sungguh memprihatinkan: pucat pasi, tremor, bicaranya gemetar. Setelah saya terapi prana kondisinya nampak sekali perubahannya. Beliau lebih tenang, tremornya sangat berkurang dan bicaranya semakin jelas. Setelah sekitar 4 bulan kondisi beliau sudah sangat bagus dan orang lain melihat beliau sudah sembuh, demikian pula anggapan pimpinannya. Karena itu beliau mendapat tugas berat seperti sedia kala, yaitu mengajar, menulis dan memberi seminar. Menurut saya sebenarnya beliau itu belum sembuh total baru 80%. Sekitar 2 bulan lagi beliau baru akan sembuh total. Sayang dalam tugas beratnya itu penyakitnya kambuh dan merenggut jiwanya. Andaikan sebelumnya beliau berkonsultasi, akan saya sarankan untuk tidak menangani tugas-tugas berat yang sangat melelahkan itu.

♦♦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s