Menguji Kejujuran

Oleh : Sri Chinmoy 

Zamidar (seorang tuan tanah dan pemungut cukai) sebuah desa beserta isterinya mempunyai sejumlah kambing. Seorang pelayan, seorang anak laki-laki, melayani mereka. Zamidar itu sangat menyukai anak itu, namun isterinya selalu curiga padanya, walau pelayan itu tidak menyadarinya. Isteri zamidar itu sangat cerdik. Diluar dia sangat baik, sopan dan penuh perhatian pada pelayan itu, tetapi dalam hatinya dia memusuhi dan tidak mempercayainya.

Suatu hari seorang teman singgah di rumah Zamidar itu dan melihat Zamidar itu nampak sedih. Temannya bertanya, “Mengapa kamu begitu sedih?”

Zamidar itu menjawab, “Isteriku dan aku berbeda pendapat mengenai pelayan ini. Kami masing-masing mempunyai pendapat yang bertolak belakang mengenai dia.”

Temannya berkata, “Jangan khawatir. Aku dapat menyelesaikan masalah ini dan mengatakan apakah dia baik atau buruk.”

Suatu hari, ketika pelayan itu menjaga kambing di padang, sahabat tuannya itu mendatanginya dan berkata, “Anak kambing ini sangat bagus, maukah kami menjualnya kepadaku seharga lima puluh ribu rupiah?”

Anak itu menjawab, “Tidak, maaf, saya tidak bisa menjualnya.”

Teman tuannya bertanya lagi, “Kalau seratus ribu rupiah, apa kamu mau menjualnya?”

Anak itu menjawab, “Maaf, tidak tuan.”

“Dua ratus ribu?” Teman majikannya berkata.

Pelayan itu menjawab, “Kalau tuan ingin membeli anak kambing ini, datanglah ke majikan saya dan berikan uang dua ratus ribu rupiah padanya. Kalau majikan saya ingin menjualnya, maka saya akan menyerahkannya pada tuan.”

Orang itu tidak menyerah, “Siapa yang mau pergi ke majikanmu? Rumahnya jauh dari sini. Biar kubayar tiga ratus ribu rupiah. Aku yakin majikanmu hanya menggajimu sedikit. Simpan uang tiga ratus ribu ini dan katakan saja pada majikanmu kalau anak kambing ini dicuri orang. Majikanmu punya begitu banyak kambing. Bahkan dia tidak akan tahu kalau hilang seekor.”

“Oh, tidak tuan,” kata anak itu, “Saya tidak dapat melakukan hal seperti itu. Dia akan tahu. Dan walaupun dia tidak menyadarinya, saya tahu berapa banyak kambing yang dimilikinya, jadi saya tahu kalau ada yang hilang.”

Teman tuannya berkata, ‘Ambil saja uang tiga ratus ribu ini dan berikan anak kambing itu. Kemudian pergilah ke tuanmu dan katakan bahwa kamu sudah menjualnya.”

Anak itu menjawab, Tidak, maaf tuan, saya tidak dapat menjualnya tanpa izin majikan saya.”

“Aku beri kamu sejuta rupiah, maukah kamu menyerahkan anak kambing itu?” katanya, “Lalu kamu bisa mengambil semua uang itu.”

“Saya bukan pencuri,” kata pelayan itu, “Saya tidak pernah mau menerima uang itu.”

Teman majikannya berkata, “Kamu bisa menyerahkan padanya tujuh ratus ribu rupiah dan kamu ambil yang tiga ratus ribu untuk dirimu sendiri.”

“Saya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu tuan,”anak itu menjawab.

Tetapi orang itu terus memaksa, akhirnya pelayan itu menyerah, “Kalau tuan benar-benar ingin memberi saya uang sejuta rupiah untuk seekor anak kambing, maka saya akan menerima uang itu dan menyerahkannya kepada majikan saya.”

Teman zamidar itu sangat ingin mengetahui apa yang akan dilakukan pelayan itu dengan uang itu. Dia berpikir, “ Dia pasti tidak menyerahkan uang itu secara utuh kepada tuannya atau mungkin malah mengatakan bahwa anak kambing itu hilang dicuri orang. Apapun yang dilakukannya, aku tetap dapat menceritakan kepada tuannya kisah yang sebenarnya.”

Pelayan itu pergi menghadap tuannya dan menyerahkan uang sejuta rupiah. Dia berkata, “Tuan, maafkan saya. Saya telah menjual seekor anak kambing seharga sejuta rupiah tanpa izin tuan. Saya tahu bahwa harga anak kambing itu hanya lima pukuh ribu rupiah, tetapi orang ini terus memaksa memberiku uang sejuta rupiah untuk anak kambing itu. Saya pikir tuan akan sangat senang menerima uang sejuta rupiah untuk seekor kambing seharga lima pukuh ribu. Sekarang tuan bisa membeli lebih banyak kambing lagi.”

Isteri zamidar itu berkata pada pelayan itu, “Aku ingin bicara dulu sebentar dengan suamiku secara pribadi. Maukah kamu pergi sebentar dari ruangan ini?

Kemudian isteri zamidar itu berkata kepada suaminya, “Aku tidak percaya padanya. Menurutku dia telah menjualnya dengan harga yang lebih tinggi dan hanya menyerahkan sebagian saja kepada kita.” Isteri zamidar itu tidak tahu bahwa yang membeli anak kambing itu adalah teman suaminya.

Tak lama kemudian teman zamidar itu muncul dan bertanya, “Apa yang terjadi?”

Zamidar itu menjawab, “Pelayan kami mengatakan bahwa dia menjual seekor kambingku seharga sejuta rupiah. Aku tidak curiga padanya, tetapi seperti biasanya, isteriku selalu curiga. Isteriku menduga bahwa dia telah menjual anak kambing itu dengan harga lebih dari sejuta dan mengambil sebagian untuk dirinya sendiri.”

Temannya berkata, “Kamu tidak akan bisa mendapatkan orang lain yang sejujur dan setulus pelayan ini sepanjang hidupmu. Akulah yang membeli anak kambing itu seharga sejuta rupiah. Aku berusaha membujuknya agar mengambil semua uang itu. Aku telah mengujinya. Tetapi setiap kali dia menunjukkan kejujurannya. Aku telah mengujinya dengan teliti. Dia adalah orang yang sangat jujur.”

Zamidar itu kemudian berkata pada isterinya, “Benarkan, kan aku sudah bilang.”

Isterinya menjawab, “Akan selalu baik menguji seseorang dengan cara seperti ini. Mulai sekarang, aku akan mempercayai anak ini dan menganggapnya seperti anakku sendiri.”

———-

2 comments on “Menguji Kejujuran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s