Memupuk Cinta Ilahi

Bagaimana memupuk cinta ilahi 

Dikutip dari buku “Divine Romance” tulisan Sri Sri Paramahansa Yogananda

Secara menyeluruh, dunia telah melupakan arti kata cinta yang sebenarnya. Cinta sedemikian di salah gunakan dan dilecehkan manusia sehingga akhirnya hanya sedikit saja orang yang memahami apa sebenarnya arti kata cinta itu. Sama seperti minyak terdapat dalam setiap bagian zaitun, demikian juga cinta meresap pada semua bagian ciptaan. Tetapi sangat sulit menggambarkan cinta, sama halnya seperti kata-kata tidak sepenuhnya dapat menggambarkan seperti apa rasa jeruk. Anda harus merasakan sendiri buah itu agar dapat mengetahui rasanya. Demikian juga dengan cinta. Anda semua pasti sudah merasakan berbagai jenis rasa cinta dalam sanubari anda, karena itu anda tahu sedikit apa itu cinta. Tetapi anda tidak mengetahui bagaimana cara mengembangkan cinta, bagaimana cara memurnikan dan meningkatkannya menjadi cinta Ilahi. Sepercik cinta Ilahi ini ada hampir di setiap sanubari di awal setiap kehidupan, tetapi biasanya kemudian hilang, karena manusia tidak tahu bagaimana memupuknya.

Banyak orang tidak menyadari betapa pentingnya menganalisa cinta. Mereka menyadari cinta hanya sebagai perasaan yang mereka miliki terhadap keluarga, teman dan orang lain yang kepadanya dia tertarik. Tetapi sebenarnya cinta lebih dari sekedar itu. Satu-satunya cara agar saya dapat menggambarkan cinta sejati kepada anda adalah dengan menjelaskan pengaruhnya. Kalau anda dapat merasakan sepercik saja cinta Ilahi, akan sedemikian besar kegembiraan anda – sedemikian sangat memberdayakan – anda tidak akan mampu menampungnya.

Camkan masak-masak apa yang akan saya katakan ini. Kepuasan akan cinta tidak pada perasaan itu sendiri, tetapi pada kegembiraan yang dibawa oleh perasaan itu. Cinta memberi kegembiraan. Kita menyukai cinta karena cinta memberi kita semacam kebahagiaan yang memabukkan, jadi cinta bukanlah yang utama, yang utama adalah kebahagiaan Ilahi. Tuhan adalah “Sat-Chi-Ananda”, selalu ada, selalu sadar, selalu penuh dengan kebahagiaan Ilahi. Kita, sebagai jiwa, secara khusus adalah “Sat-Chi-Ananda”. “Kita berasal dari kegembiraan, kita hidup dan berada dalam kegembiraan, dan dalam kegembiraan suci itu sekali lagi kita akan menyatu lagi”. Semua emosi Ilahi – cinta, bela rasa, mau berkurban, rendah hati – tidak ada artinya tanpa kegembiraan. Kegembiraan berarti sukacita, ekspresi kegembiraan utama.

Pengalaman kegembiraan manusia berasal di otak, di pusat lembut yang oleh para yogi disebut dengan “Sahasrara”, atau teratai berkelopak seribu. Namun rasa gembira yang sebenarnya tidak dirasakan di kepala, tetapi di hati. Dari tempat kesadaran Tuhan yang Ilahi di otak, kegembiraan turun ke cakra jantung dan muncul di situ. Kegembiraan itu berasal dari kebahagiaan Tuhan – sifat utama dan mendasar dari roh.

Walaupun kegembiraan dapat saja lahir bersamaan dengan kejadian tertentu  lainnya, itu tidak tergantung pada kondisi tertentu, dia sering kali luncul tanpa sebab khusus. Kadang-kadang anda bangun di pagi hari “melayang-layang” penuh kegembiraan, dan anda tidak tahu kenapa, dan ketika anda sedang duduk hening bermeditasi, kegembiraan melambung dari dalam, muncul tanpa rangsangan dari luar. Sukacita karena meditasi itu meluap-luap. Mereka yang belum pernah masuk ke dalam keheningan meditasi yang sejati tidak akan tahu apa itu sukacita sejati.

Kita merasakan banyak kebahagiaan dengan pemuasan hasrat, tetapi di masa muda kita sering merasakan kebahagiaan yang secara tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Kegembiraan menyatakan dirinya dengan syarat-syarat tertentu, tetapi tidak ditimbulkan oleh kondisi-kondisi itu. Jadi, mereka yang menerima sepuluh juta rupiah dan menyatakan “Oh, betapa bahagianya aku!” keadaan menerima sepuluh juga rupiah ini hanyalah berperan sebagai cangkul yang menggali mata air sukacita dari sumber kebahagiaan yang tersembunyi dalam diri. Maka, dalam pengalaman manusia, peristiwa tertentu biasanya membutuhkan sesuatu untuk menampilkan kegembiraan itu, tetapi kegembiraan itu sendiri adalah tingkat jiwa alami yang abadi. Cinta juga asal jiwa, tetapi cinta merupakan yang kedua setelah kegembiraan, tak mungkin ada cinta tanpa kegembiraan. Dapatkah anda memikirkan cinta tanpa perasaan gembira? Tidak, kegembiraan menyertai cinta. Bila kita bicara tentang derita cinta yang tak berbalas, kita bicara mengenai keinginan yang tidak terpenuhi. Pengalaman sejati cinta selalu disertai kegembiraan.

.
Sifat Cinta Itu Universal

Dalam pengertian universal, cinta adalah kekuatan Ilahi. Daya tarik Ilahi dalam penciptaan yang menyelaraskan, menyatukan, dan mengikat. Ini berlawanan dengan kekuatan yang menentangnya, yang merupakan energi kosmik yang keluar, yang mewujudkan penciptaan kesadaran kosmik Tuhan. Penolakan membuat semua bentuk di tingkat penciptaan melalui “maya”, kekuatan khayal yang memecah belah, membeda-bedakan dan tidak selaras. Kekuatan daya tarik cinta meniadakan penolakan kosmik untuk menyelaraskan semua ciptaan dan terutama menariknya kembali menuju Tuhan. Mereka yang hidup selaras dengan daya tarik cinta mencapai keselarasan dengan alam dan makhluk lainnya, dan akan tertarik pada perjumpaan dengan Tuhan, dengan penuh kebahagiaan Ilahi.

Di dunia ini, cinta mensyaratkan dualitas, dia muncul dari saling bertukar perasaan antara dua atau lebih makhluk. Bahkan binatang menunjukkan sejenis cinta tertentu satu sama lain dan pada anak-anaknya. Pada kebanyakan kasus, jika salah satu pasangan meninggal, yang satunya biasanya segera menyusul. Tetapi cinta yang ada pada binatang itu naluriah, mereka tidak bertanggung jawab atas cinta mereka. Manusia, bagaimanapun, secara sadar mempunyai sejumlah besar penentuan nasib sendiri dalam pertukaran cinta mereka.

Pada manusia, cinta menampilkan diri dalam berbagai cara. Kita jumpai cinta antara suami dan isteri, orang tua dan anaknya, kakak dan adik, teman dengan teman, tuan dan pembantunya, Guru dengan muridnya dan antara Tuhan dan hamba-Nya, jiwa dan rohnya.

Cinta adalah emosi yang universal, ekspresinya dapat dikenal dari kodrat pikiran yang melaluinya dia bergerak. Oleh sebab itu, bila cinta melewati hati seorang ayah, kesadaran kebapakan menterjemahkannya kedalam cinta kebapakan. Bila dia melewati hati seorang ibu, kesadaran keibuan menterjemahkannya menjadi cinta keibuan. Bila cinta melewati hati mereka yang sedang jatuh cinta, kesadarannya memberikan cinta universal ini sesuai dengan sifatnya.

Itu bukanlah perangkat jasmaniah, melainkan kesadaran yang melaluinya cinta bergerak. Cinta yang bergerak itulah yang menentukan sifat cinta yang di ekspresikan. Jadi seorang ayah bisa saja mengekspresikan cinta keibuan, seorang ibu dapat mengekspresikan cinta persahabatan, seorang pencinta dapat mengekspresikan cinta ilahi.

Setiap cerminan cinta berasal dari satu-satunya cinta kosmik, tetapi ketika diekspresikan sebagai cinta manusia dalam berbagai bentuknya, selalu saja terdapat beberapa noda di dalamnya. Si ibu tidak tahu mengapa dia begitu mencintai anaknya, si anak tidak tahu mengapa dia begitu mencintai ibunya. Mereka tidak tahu dari mana datangnya cinta yang saling mereka rasakan itu. Ini adalah perwujudan cinta Tuhan dalam diri mereka, dan bila ini murni dan tidak mementingkan diri sendiri, ini mencerminkan cinta Ilahi. Jadi, dengan mengamati cinta manusia, kita dapat mempelajari sesuatu dari cinta Ilahi. Karena kita dapat sekilas melihat cinta Tuhan itu dalam cinta manusia.

.
Cinta kebapakan berlandaskan pada pertimbangan tertentu

Cinta kebapakan berasal dari kearifan yang dilandasi oleh pertimbangan. Dalam kesadaran seorang ayah, yang teratas adalah pikiran: “Ini adalah anakku yang harus kulindungi dan aku pedulikan” dia melakukannya tanpa mementingkan dirinya sendiri, mengekspresikan cintanya dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan, memberikan perintah pada anaknya dan juga menyediakan semua kebutuhannya. Tetapi sebagian dari cinta kebapakan adalah naluriah. Seperti juga semua cinta hubungan keluarga lainnya, sang ayah tidak dapat tidak harus mencintai anaknya.

.
Cinta keibuan berlandaskan perasaan dan tanpa pamrih

Cinta keibuan lebih luas. Ini lebih dilandasi oleh perasaan dibandingkan dengan pertimbangan tertentu. Cinta keibuan yang sejati itu tanpa pamrih. Dapat kita katakan bahwa dalam banyak hal, dia lebih spiritual dan karenanya lebih besar dari kebanyakan ekspresi cinta manusia lainnya. Tuhan menanamkan dalam hati seorang ibu cinta bagi anaknya yang tanpa pamrih, bagaimanapun tingkah laku anaknya. Bahkan bila kemudian ternyata anaknya menjadi seorang pembunuh, cinta seorang ibu tetap akan bertahan, tidak berubah, sebaliknya sang ayah akan lebih tidak sabar dan cenderung untuk lebih sulit memaafkannya. Cinta tanpa syarat dari sang ibu mungkin adalah cinta manusiawi yang paling dekat pada kesempurnaan cinta Tuhan. Ibu yang sejati memaafkan anaknya walaupun orang lain tidak ada yang mau memaafkannya. Cinta sejenis ini adalah contoh dari cinta Tuhan, yang memaafkan anak-anaknya apapun dosa yang telah dilakukannya.

Siapakah yang dapat meletakkan cinta ini kedalam hati seorang ibu, kalau bukan Tuhan? dalam cinta sejati keibuan, Tuhan memberikan bukti nyata bahwa dia mencintai kita tanpa syarat, tak peduli betapapun jahatnya kita, atau berapa banyak kita telah berdosa.

Roh Ilahi tidaklah lalim. Dia tahu Dia telah menaruh kita di dunia khayal. Dia tahu kita dalam kesulitan, Dia tahu perjuangan kita. Manusia hanya akan meningkatkan kegelapan batin dari kebodohan spiritualnya bila dia berpikir bahwa dirinya adalah seorang pendosa. Lebih baik baginya untuk mencoba memperbaiki dirinya sendiri. Berseru pada Bunda Ilahi memohon pertolongan, memandangnya dalam pantulan cinta abadi dan pengampunan Tuhan.

.
Ketika tadi malam saya bermeditasi, saya menyanyikan lagu cinta ini kepada Tuhan :

Oh bunda Ilahi, aku adalah bayi kecilmu,
Bayimu yang tak berdaya
Tenang duduk dalam pangkuan keabadianmu
Aku akan menyelinap kesurga dalam pangkuanmu
Dalam perlindungan pangkuanmu aku menyelinap ke surga
Tak ada karma yang dapat menyentuhku,
Karena aku adalah bayimu, bayi kecilmu, bayimu yang tak berdaya.
Diam-diam dalam pangkuanmu, aku akan menyelinap masuk ke surga  …..

Itu adalah hubungan dengan Tuhan yang harus kita miliki, karena cinta seorang ibu adalah cinta Ilahi yang selalu memaafkan.

.
Cinta Suami – Isteri

Dalam keadaan yang paling ideal, cinta suami-isteri dapat merupakan salah satu ekspresi cinta manusiawi yang paling agung. Jesus secara langsung menyatakannya ketika Dia berkata: ”Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging” (Matius 19:5). Ketika pria dan wanita dengan sepenuh hati dan dengan tulus saling mencintai, di situ ada keselarasan penuh di antara mereka dalam tubuh, akal budi dan jiwa. Bila cinta mereka dinyatakan dalam bentuknya yang tertinggi, akan menghasilkan kemanunggalan yang sempurna. Tetapi cinta ini, juga punya kekurangan. Dia bisa dinodai oleh penyalahgunaan secara seksual, yang dapat meniadakan cinta Ilahi. Alam telah membuat dorongan seksual yang sangat kuat agar penciptaan dapat terus berlangsung, karenanya seks mempunyai tempat tersendiri dalam hubungan perkawinan. Tetapi kalau ini menjadi faktor utama dalam hubungan itu, cinta meloncat keluar dan benar-benar akan lenyap; digantikan dan dikuasai oleh kebiasaan yang berlebihan, pelecehan dan kehilangan keakraban dan pengertian. Walaupun daya tarik seksual merupakan salah satu kondisi yang melahirkan cinta, seks itu sendiri bukanlah cinta, seks dan cinta jaraknya sejauh bulan dan matahari. Hanya kalau sifat penggubahan cinta sejati merupakan hal yang paling utama dari hubungan itu, maka seks menjadi alat untuk mengutarakan cinta. Mereka yang terlalu banyak hidup di tataran seks akan kehilangan jalan dan akan gagal menemukan hubungan perkawinan yang memuaskan. Hanya dengan menahan diri, dan menjadikan seks bukan lagi sebagai emosi yang berkuasa, tetapi hanya sekedar pelengkap cinta, di mana suami dan isteri dapat memahami apa sebenarnya cinta itu. Di dunia yang modern ini, sayangnya cinta sering kali dirusak oleh penekanan yang berlebihan terhadap pengalaman seks. Mereka yang mempraktekkan kehidupan seks yang alami, tidak dipaksakan – tidak berlebihan, mengembangkan sikap menahan diri dalam hubungan suami isteri : persahabatan, keakraban, pengertian dan saling mencinta.

Sebagai contoh Nyonya Amelita (seorang penyanyi sopran terkenal saat itu) dan suaminya Homer Samuels, merupakan pencinta terbesar yang saya jumpai di barat. Cinta mereka begitu indah karena mereka mempraktekkan hal-hal  yang saya katakan tadi. Ketika mereka berpisah walau sebentar saja, mereka begitu ingin untuk saling bertemu lagi, untuk saling mendampingi, untuk saling membagikan pikiran dan cinta mereka. Mereka hidup untuk pasangannya.

Hubungan antara Ellah Wheeler Wilcox (penyanyi Amerika) adalah contoh lain dari hubungan suami isteri yang indah. Seorang murid saya yang mengenal mereka, mengatakan kepada saya bahwa dia belum pernah melihat sesuatu yang seperti cinta mereka: “Setiap kali mereka berjumpa, itu seolah-olah merupakan kegembiraan seperti ketika mereka pertama kali berjumpa. Mereka demikian saling mencintai. Tiga tahun setelah kematian suaminya, pikirannya hanyalah terus menerus pada perjumpaan kembali dengannya, dan ketika akhirnya dia juga meninggal, sebelumnya dia menyebut nama suaminya”.

Saya pernah berjumpa dengan seseorang yang juga tidak mementingkan dirinya sendiri dalam berbakti kepada negaranya. Dia sangat mencintai isterinya, sedemikian besar sehingga cintanya kepada isterinya berubah menjadi cinta Ilahi. Setelah isterinya meninggal, dia berkelana selama bertahun-tahun. Mencari jalan agar dapat berjumpa kembali dengan isterinya. Dia memang berhasil, akhirnya dia menemukan Tuhan melalui cintanya pada isterinya. Berikut ini adalah kisah yang di ceritakannya pada saya: “Dalam pengembaraannya setelah kematian isterinya, dia bertemu dengan seorang suci di Himalaya. Dia membujuk orang suci itu agar mau berjanji untuk memberikan inisiasi spiritual kepada dia dan isterinya bersama-sama. Setelah menyanggupinya, orang suci itu berkata, “dimana isterimu?” sang suami mengatakan bahwa isterinya sudah meninggal. Namun demikian orang suci itu tetap memegang janjinya untuk memberikan inisiasi kepada keduanya bersama-sama. Dia perintahkan laki-laki itu untuk duduk bermeditasi, dan mulai berdoa memohon kehadiran isterinya. Tiba-tiba dia muncul. Cukup lama dia bincang dengan suaminya. Kemudian keduanya duduk berdampingan dan menerima inisiasi dari orang suci itu. Setelah itu, orang suci tadi memberkati mereka, dan sang isteri pergi. Sejak saat itu, sang suami menyadari bahwa wujud yang dicintainya yang dikenalnya sebagai isterinya ada dalam kenyataan sebagai perwujudan pribadi kesadaran Tuhan- seperti juga semua manusia. Arti sebenarnya dari cinta Ilahi dibaliknya dan tanggung jawab untuk setiap hubungan antar manusia yang diidamkannya, telah diungkapkan padanya. Ini merupakan pengalamannya yang unik dan sejati.

Tetapi cinta suami isteri itu penuh muslihat, dan kebanyakan orang meninggalkan dunia ini dengan tidak puas. Mereka tidak menemukan cinta dalam perkawinan dengan cara yang tepat. Kebanyakan hanya tertarik pada penampilan yang menarik dan menyenangkan, mereka mencari pasangan jiwanya dalam kuburan keindahan, wujud-wujud yang mengenakan pakaian indah, tanpa sadar kalau mungkin saja iblis tinggal di dalamnya. Saya tidak mencela mereka yang menanggapi hukum tarik menarik ciptaan Tuhan. Saya mencela penyalah-gunaan daya tarik itu untuk birahi. Setiap pria menganggap wanita sebagai obyek birahi, dan melecehkan wanita untuk memuaskan nafsunya, itu sama saja dengan melakukan penghancuran diri sendiri. Pelecehan seksual yang berkesinambungan merusak syaraf dan mempengaruhi jantung, dan akhirnya merusak kedamaian dan kebahagiaan. Umat manusia harus menyadari kalau kodrat mendasar jiwa adalah spiritual. Pria dan wanita yang saling menganggap pasangannya sebagai pemuas nafsu sama saja dengan menyebabkan rusaknya kebahagiaan, lambat laun, sedikit demi sedikit, kedamaian batinnya akan musnah.

Pelecehan seksual dapat dibandingkan dengan mengendarai mobil tanpa oli; dan tubuh tidak akan tahan. Setiap tetes “sari utama” yang hilang sama dengan hilangnya delapan tetes darah. Tetapi hal penting yang perlu diingat adalah belajar mengontrol diri. Ini dimulai dengan mengontrol dan memurnikan akal budi, dan jauh lebih penting dari pada secara jasmani tidak melakukan hubungan seksual tetapi pikirannya penuh dengan hal semacam itu. Penekanan nafsu dapat juga mencelakakan.

Pria dan wanita harus saling memandang masing-masing sebagai cerminan Ilahi. Saya rasa sangatlah indah bila seorang suami memanggil isterinya “ibu” atau seorang isteri memanggil suaminya dengan “ayah”. Setiap wanita harus menganggap pria sebagai ayah. Sikap saya terhadap wanita sama seperti terhadap seorang ibu. Menurut pandangan saya mereka tidaklah sekedar wanita, tetapi sebuah gambaran Ibu Ilahi. Adalah Ibu Ilahi ini yang berbicara kepada saya melalui seorang wanita.

Wanita tidak perlu bekerja keras dengan “itu”. Dia harus nampak rapih, tidak salah untuk membuat dirinya menarik, kalau itu dilakukan dengan selera yang baik. Tetapi salah kalau berupaya keras untuk menarik lawan jenis melalui daya tarik seksualnya. Ketertarikan antara pria dan wanita seharusnya berasal dari jiwa mereka yang dapat mengontrol seks dan tidak menjerumuskan diri sebagai simbol seks, mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk menarik lawan jenis dengan benar. Sangat banyak wanita muda yang datang pada saya dan mengeluh bahwa laki-laki menginginkan seks lebih dahulu, kalau tidak mereka tidak akan mengajaknya pergi keluar. Pengalaman seks merusak kehidupan para remaja.

Di India, para remaja tak pernah bersentuhan atau berciuman sebelum mereka menikah. Cintalah yang utama. Itulah yang seharusnya. Ketika dua orang merasa saling tertarik dan siap untuk saling berkurban, mereka telah benar-benar jatuh cinta. Setelah itu barulah mereka siap untuk berhubungan intim dalam ikatan perkawinan. Saling memiliki saja tidak cukup. Bila dalam pernikahan salah satu mencoba menguasai yang lain, itu menandakan kurangnya cinta sejati. Tetapi bila mereka mengekspresikan cinta dengan perhatian demi kebahagiaan sejati terus menerus, itu akan menjadi cinta ilahi. Dalam hubungan cinta seperti inilah baru kita dapat merasakan keilahian.

Para isteri banyak yang mengatakan, “suamiku tidak ingin saya tertarik pada hal-hal rohani” ini benar-benar sangat mementingkan diri sendiri. Bila sang isteri ingin menjadikan dirinya lebih spiritual, suaminya harus mendukungnya. Dia tidak akan kehilangan isterinya, sebaliknya, dia akan menerima sebagian kebajikan isterinya. Prinsip yang sama juga berlaku pada sikap isteri terhadap suaminya. Hal terbaik yang dapat diharapkan seorang suami atau isteri dari pasangannya adalah spiritualitas, karena spiritualitas membuka jiwa pada pengertian, kesabaran, perhatian, cinta – tetapi masing-masing harus ingat bahwa keinginan akan pertumbuhan spiritual tidak dapat dipaksakan pada pasangan masing-masing. Jalanilah kehidupan cinta anda sendiri, dan kebaikan anda akan mengilhami semua yang anda cintai.

Setelah beberapa tahun menikah, ribuan suami dan isteri bertanya pada diri sendiri, “kemana perginya cinta kita?” Apakah telah terbakar hangus di altar pelecehan seksual, pementingan diri sendiri, dan kurangnya saling menghargai. Bila sikap-sikap ini masuk dalam hubungan suami isteri, cinta berubah menjadi debu. Wanita menggerutu ketika suaminya berusaha memperbudaknya, atau bila dia merasa suaminya telah menyia-nyiakannya. Bagaimanapun, silat lidah adalah salah satu perilaku terburuk yang dapat diperbuat seseorang pada yang lain. Dikatakan bahwa lidah wanita yang panjangnya hanya 3 inci dapat membunuh laki-laki setinggi 6 kaki.

Ketika pria dan wanita saling menyakiti, mereka secara bersama-sama telah menghancurkan kebahagiaan mereka sendiri untuk selama-lamanya. Pria harus berjuang untuk melihat Tuhan dalam diri seorang wanita, dan membantunya untuk mewujudkan kodrat spiritualnya. Dia harus membuat isterinya merasa bahwa isterinya hidup bersamanya bukan hanya untuk memuaskan selera seksualnya, tetapi sebagai rekan yang dihormatinya dan dihargainya sebagai cerminan sang ilahi. Demikian juga sebaliknya dengan wanita.

Sikap lain yang salah adalah takut pada lawan jenisnya. Penolakan yang abnormal, seperti ketertarikan yang abnormal, adalah sikap yang tidak sehat. Dari guru saya, Swami Sri Yukteswar, saya belajar bagaimana menghormati wanita, bukan sebagai alat yang diciptakan untuk memperangkap atau merusak moral laki-laki, tetapi sebagai wakil Bunda Ilahi alam raya. Bila pria mulai menganggap wanita sebagai lambang ibu, pria akan menemukan dalam diri seorang wanita perlindungan penuh cinta yang belum pernah dijumpainya. Melalui rakhmat Tuhan, saya telah mampu mengubah kesadaran banyak orang dengan pandangan spiritual ini. Setiap pria harus menganggap wanita sebagai lambang ibu alam semesta, dan setiap wanita harus menganggap pria sebagai ayah dari alam semesta. Ketika mereka pergi dari hadapan saya, mereka merasakan Ayah Bunda Ilahi telah berbicara melalui saya, karena saya berbicara pada mereka dari kesadaran Ilahi.

Saya berpikir, bila yang ada hanyalah cinta suami isteri saja, bila tidak ada yang dinamakan daya tarik seksual, orang biasa tidak akan punya kemampuan untuk merasakan cinta semacam itu, tetapi mereka yang telah berkembang secara spiritual akan merasakan, karena ketertarikan mereka bukan berdasarkan daya tarik seksual. Mereka yang telah meningkatkan mutu jiwanya tahu bahwa tidak ada hubungan antara seks dengan cinta sejati. Bila anda mengembangkan cinta sempurna jiwa anda, anda akan mulai memperoleh penglihatan pada yang ilahi. Jesus Kristus mewujudkan cinta itu, cinta yang murni, agung dan indah. Cinta semacam itu juga terlihat pada kehidupan orang-orang suci.

.
Cinta antara tuan dan pelayannya

Ikatan cinta antara majikan dan pelayan didasari oleh rasa saling menguntungkan. Semakin banyak uang dan kebaikan hati diberikan oleh tuannya, semakin dalam cinta pelayan pada tuannya. Semakin baik pelayanan yang diberikan oleh pelayannya, semakin hangat penghargaan yang diberikan tuannya. Ini dapat saja merupakan hubungan cinta, tetapi motivasi yang mendasarinya adalah apa yang saling mereka berikan.

.
Persahabatan – hubungan cinta manusia yang paling agung

Hubungan yang timbul di antara teman adalah cinta manusia yang paling agung. Cinta persahabatan itu murni, karena tidak disertai paksaan, seseorang bebas memilih teman untuk dicintainya, dia tidak terikat pada naluri. Cinta yang timbul dari persahabatan dapat terjadi di antara pria dan wanita, wanita dengan wanita, pria dengan pria. Tetapi dalam cinta persahabatan, tidak ada daya tarik seksual, seseorang harus tidak menikah dan secara mutlak mengesampingkan seks bila dia ingin mengetahui cinta Ilahi melalui persahabatan, kemudian persahabatan akan memupuk peningkatan cinta Ilahi. Persahabatan sejati seperti itu terjadi di antara orang suci dan di antara mereka yang benar-benar mencintai Tuhan. Bila pada suatu saat nanti anda mengenal cinta Ilahi, anda tidak akan mau melepaskannya, karena tidak ada yang lain yang seperti itu di seluruh jagad raya ini.

Cinta itu memberi tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasannya. Saya tidak pernah berpikir tentang seseorang mengenai apa yang dapat dilakukannya untuk saya. Dan saya tidak pernah mengutarakan cinta kepada seseorang karena dia telah melakukan sesuatu untuk saya. Kalau saya tidak benar-benar merasakan cinta, saya tidak akan berpura-pura memberikannya, kalau saya merasakannya, saya akan memberikannya. Saya belajar ketulusan itu dari Guru saya. Mungkin ada beberapa orang yang tidak merasa bersahabat dengan saya, tetapi saya adalah teman bagi semua, termasuk yang memusuhi saya, karena dalam hati saya, saya tidak punya musuh.

Cinta tidak dapat diminta, dia akan datang hanya dari hati orang lain sebagai pemberian. Pastikan perasaan anda sebelum anda mengatakan “aku cinta padamu”. Karena sekali anda memberikan cinta anda, itu harus selamanya. Bukan karena anda ingin dekat pada orang itu, tetapi karena anda inginkan kesempurnan jiwanya. Mengharapkan kesempurnaan orang yang kita cintai, dan merasakan kegembiraan sejati ketika memikirkan jiwanya, adalah cinta Ilahi, dan itu adalah cinta persahabatan sejati.

.
Persahabatan sejati tanpa syarat antara Guru dan murid

Hubungan antara Guru dan murid adalah ekspresi cinta dalam persahabatan yang terbesar, ini adalah persahabatan ilahi tanpa syarat, berdasarkan pada tujuan yang satu, keinginan untuk mencintai Tuhan lebih dari segala sesuatu yang lain. Si murid membuka jiwanya kepada Gurunya, dan Guru membuka hatinya pada si murid. Di antara mereka tidak ada yang disembunyikan. Bahkan pada bentuk persahabatan lain yang lebih mulia, kadang-kadang masih terdapat diplomasi. Tetapi persahabatan antara Guru dan murid bersih dari noda.

Saya tak dapat memikirkan hubungan lain di dunia ini yang lebih besar dari hubungan yang ada antara saya dan Guru saya. Hubungan antara Guru dan murid adalah cinta dalam bentuk yang tertinggi. Saya pernah meninggalkan ashramnya, mengira bahwa saya akan lebih berhasil mencari Tuhan di pegunungan Himalaya. Ternyata saya keliru, segera saya menyadari kalau saya telah membuat kesalahan. Namun ketika saya kembali, dia memperlakukan saya seolah-olah saya tidak pernah meninggalkannya. Sapaannya demikian biasa, bukannya marah, dengan tenang dia berkata: “Mari kita lihat apa yang dapat kita makan pagi ini”.

“Tapi Guru,” kataku, “apakah Guru tidak marah karena aku pergi?”

“Kenapa aku harus marah?” dia berujar “aku tidak mengharapkan apapun dari orang lain, maka perbuatannya tidak mungkin bertentangan dengan harapanku. Aku tak akan memanfaatkan kamu untuk kepentinganku; aku bahagia hanya dalam kebahagianmu yang sejati.”

Ketika dia mengatakan itu, aku jatuh di kakinya dan menangis tersedu, untuk pertama kalinya ada orang yang benar-benar mencintaiku!

Aku pernah meneruskan usaha keduniawian ayahku dan kemudian meninggalkannya, ayahku sangat marah padaku, ketika aku menolak kedudukan sangat bagus yang ditawarkan padaku, dia tidak berbicara padaku selama seminggu. Dia memberikan cinta kebapakan yang paling tulus, tetapi itu tetap masih buta. Dia mengira kalau uang akan membuatku bahagia, uang akan merupakan kuburan bagi kebahagiannku. Baru kemudian, ketika aku mulai membuka perguruanku di Ranchi, ayahku mulai melunak dan berkata: “Aku gembira kamu tidak menerima tawaran pekerjaan itu.”

Tetapi lihatlah sikap Guruku, walaupun aku pergi meninggalkan ashram tanpa pamit untuk mencari Tuhan, cintanya padaku tetap tinggal dan tidak berubah. Bahkan dia sama sekali tidak memarahiku. Namun di saat yang lain dia selalu memberitahu dengan jelas ketika aku membuat kesalahan. Dia berkata, “kalau cintaku dapat di suap untuk berkompromi dengan cinta itu sendiri, maka itu bukanlah cinta. Kalau aku harus mengganti kebiasaanku kepadamu karena khawatir akan reaksimu, maka perasaanku padamu bukanlah cinta yang sejati. Aku harus dapat bicara jujur kepadamu. Kamu boleh keluar setiap saat, tetapi selama kamu bersamaku, aku akan mengingatkanmu, demi kebaikanmu yang tertinggi, ketika kamu berbuat kesalahan.”

Aku tidak dapat membayangkan seseorang yang sedemikian menarik perhatianku. Dia mencintaiku demi aku. Dia menginginkan kesempurnaan diriku, dia ingin agar aku menjadi sangat bahagia. Itu adalah kebahagiannya. Dia ingin agar aku mengenal Tuhan untuk bersama dengan Bunda Ilahi dan kepadanyalah kerinduan hatiku.

Bukankah yang dilakukannya itu adalah cinta Ilahi? terus menerus berharap membimbingku di jalur kebaikan dan cinta? Bila cinta seperti itu tumbuh di antar Guru dan murid, si murid tidak akan punya niat untuk memanipulasi sang Guru, demikian juga sang Guru tidak berusaha menguasai muridnya. Alasan dan penilaian yang tinggi menguasai hubungan mereka, tidak ada cinta lain yang seperti ini. Saya telah merasakan cinta itu dari Guruku.

.
Cinta sempurna diantara jiwa dan roh

Cinta teragung yang dapat anda alami adalah hubungan erat dengan Tuhan dalam meditasi. Cinta antara jiwa dan roh adalah cinta yang sempurna, cinta yang anda semua cari. Ketika anda bermeditasi, cinta bertumbuh. Berjuta-juta getaran melanda hati anda. Bila anda belajar mengontrol daya tarik seks dan ketergantungan pada manusia dan bila anda berusaha keras mencintai semuanya dan bermeditasi lebih mendalam, maka akan datang ke dalam hati anda cinta seperti itu. Yang tidak anda harapkan terjadi dalam hidup anda. Itu adalah cinta yang diberikan Krishna, dan yang ditunjukkan Kristus kepada semua pengikutnya. Ini adalah cinta yang diberikan Jesus kepada Maria, Martha bekerja keras untuk gurunya, tetapi pikirannya ada pada tugasnya, bukan pada gurunya; Maria lebih memikirkan Guru dari pekerjaannya, karena cinta Maria lebih besar, Jesus berkata: “Maria telah memilih bagian yang baik, yang tak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:38-42). Dan pada kesempatan lain, ketika Maria membawa minyak wangi untuk meminyaki kaki Jesus, dan Judas berkata: “mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tigaratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Jesus menjawab, “karena orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu”. (Johanes 12:2-8). Jesus menerima persembahan Maria. Bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk roh dalam dirinya. Dan Maria, dengan meminyaki kaki Jesus, telah menunjukkan cintanya pada Tuhan. Yang paling dipikirkan Maria adalah memberikan cintanya kepada Jesus sebagai penguasa alam raya, dan pada yang lain, menunjukkan penilaian yang baik. Tidak kepada seorangpun selain kepada Tuhan kita berhutang cinta. Dan tidak ada cinta yang lebih indah dari cinta yang Tuhan berikan kepada mereka yang mencarinya.

Jadi mengapa menghabiskan seluruh waktu anda untuk mengejar cinta manusiawi yang hanya sementara saja? Semua jenis cinta manusiawi; cinta suami isteri, keluarga, orang tua; mempunyai jalan buntu. Hanya cinta Ilahi yang merupakan cinta yang sempurna. Tuhanlah yang bermain petak umpet di relung-relung hati, yang bersembunyi di balik cinta manusia yang rendah, di sana dapat anda temukan cintanya yang selalu memuaskan.

Karenanya, cintailah Tuhan, bukan demi rakhmatnya, tetapi karena Dia adalah diri anda sendiri, dan karena Dia menciptakan anda sesuai dengan citranya, maka anda akan menemukannya. Bila anda bermeditasi dengan khusuk, cinta akan menghampiri anda, cinta yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata, anda akan mengenali cintanya yang Ilahi, dan anda akan mampu memberikan cinta murni itu kepada sesama.

Cinta Tuhan yang Ilahi itu datang kepada saya tadi malam. Saya baru tidur sekejap, cinta itu begitu berkelimpahan. Dalam nyala agung cinta itu saya melihat anda semua. Cinta seperti itulah yang saya rasakan kepada anda! Di wajah anda sekalian saya melihat apa yang ada di hati anda.

Dalam kesadaran seseorang yang tenggelam dalam cinta Ilahi, tidak ada muslihat, tidak ada kerendahan tingkat kasta, tidak ada segela jenis batasan. Bila anda mengalami cinta Ilahi itu, anda tidak akan melihat perbedaan antara bunga dan binatang buas, antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Anda akan bersatu dengan alam, dan anda akan mencintai umat manusia dengan setara. Hanya memandang adanya satu ras – anak-anak Allah, saudara-saudara anda dalam Dia – anda akan berkata pada diri anda sendiri : “Tuhan adalah ayahku. Aku adalah bagian dari keluarga besarnya, keluarga umat manusia. Aku mencintai mereka, karena mereka semua saudaraku. Aku juga mencintai matahari, saudara laki-lakiku, dan bulan, saudara perempuanku, dan aku mencintai semua makhluk yang diciptakah oleh Bapaku dan di dalamnya kehidupannya mengalir.”

Cinta sejati itu Ilahi. Dan cinta Ilahi itu suka cita, semakin banyak anda bermeditasi, mencari Tuhan dengan keinginan yang membara, akan semakin anda rasakan cinta dalam hati anda. Maka anda akan tahu bahwa cinta adalah suka cita, dan suka cita adalah Tuhan.

———-

One comment on “Memupuk Cinta Ilahi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s