Dengan memberi, Menerima

DENGAN MEMBERI, KITA MENERIMA

Oleh : Efix, ( MP 18 )

Judul ini memang kedengaran klise, namun orang yang “merasa” bijaksana pasti mengamini, bahkan bisa menambahi dengan segala macam wejangan beserta contoh contoh yang konkrit. Apalagi bila “orang bijaksana” tersebut sudah berumur…… makin panjang saja wejangan maupun contoh – contohnya. Kata orang, ciri orang yang disebut tua ialah bila orang tersebut sering mengulangi cerita yang sama.

Cerita tentang “dengan memberi kita menerima” sih sah-sah saja diulang beberapa kali namun dalam praktek “nyata”-nya apakah kita juga mengulang-ulang? Bukankah terkadang kita lebih senang menerima ketimbang memberi? Senang menerima uang ketimbang memberi uang, senang menerima kebaikan ketimbang memberinya. Atau kadang kita hanya mau memberi tapi dengan syarat, yaitu kepada teman sendiri saja; kepada orang yang kita anggap baik; dan masih banyak lagi syarat yang kita tentukan sendiri.
Saya bersyukur bahwa dalam pelajaran prana Master Choa Kok Sui ini ada rambu-rambu yang mengajari bahwa sebaiknya kita memberi dalam artian yang positif. Dalam hukum sebab dan akibat disebutkan bahwa kita akan menerima apa yang kita telah lakukan dengan berlipat-lipat. Dimulai dari biji yang kita tanam akan menghasilkan panenan yang berlipat ganda. Bila biji yang kita tanam adalah jenis yang bagus, manis, unggul, yaitu kebaikan, maka entah lewat mana pasti kita akan menerima kembali kebaikan tersebut entah dalam bentuk apa maupun ke siapa (anak, keluarga, dan sebagainya). Dan ini adalah hukum alam!…. hukum yang tidak bisa dirubah dengan cara apapun. Sifat hukum ini adalah universal, umum dan berlaku di manapun. Hukum ini tetap berjalan baik kita sadari atau tidak….. baik disengaja maupun tidak. Hukum ini berlaku untuk siapa saja. Laksana Anda terjatuh dari pohon/tangga/gedung, tidak perduli siapa dan apa jabatan Anda hukum grafitasi akan menarik Anda jatuh kebawah dengan cepat, begitulah hukum alam yang kita bicarakan ini. Apa yang Anda tebarkan itulah yang akan Anda tuai. Anda tidak akan memanen beberapa jenis tanaman dari satu jenis biji. Itu adalah hukum alam. Bila Anda menanam mangga, maka hanya manggalah yang akan Anda panen berulang kali selama pohon itu hidup. Tidak mungkin Anda akan memanen jambu pada panenan berikutnya dari pohon mangga tersebut.

Belum lama ini saya baca buku tentang bisnis tulisan Garry Robert, di situ juga dijelaskan tentang hukum sebab akibat ini. Dia mengajari supaya kita mengambil manfaat dari hukum alam ini, jadi kita bisa me “manage” apa yang akan kita tebar sehingga bisa me “manage” apa yang akan kita raih/panen. Oleh karena itu di dalam buku itu juga disarankan untuk “giving rather than receiving”.

Ada lagi cuplikan dari tabloid AURA yang dimuat sekitar 7 tahun yang lalu sebagai berikut:
Berikan dulu yang terbaik, maka Anda akan menerima penghargaan tanpa diminta.

Pepatah mengatakan, kita akan menuai apa yang kita taburkan. Tanah yang paling subur di dunia tak akan menghasilkan apa-apa sebelum di situ ditaburkan benih secara tepat dan dipupuk. Hubungan antara memberi dan menerima bersifat tetap dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Untuk sukses dalam setiap usaha, pertama-tama kita harus menginvestasikan sebagian waktu dan bakat kita jika ingin mendapatkan hasil dari investasi itu. Kita harus memberi dulu sebelum menerima. Mungkin sesekali Anda akan kecewa karena usaha Anda tidak dihargai. Tapi, jika Anda minta dibayar sebelum memberikan pelayanan Anda, seumur hidup Anda akan kecewa dan frustrasi terus. Jika Anda memberikan segala usaha terbaik Anda dengan senang hati dan dengan tulus, anda pasti akan panen besar tanpa perlu memintanya.

Nah, silahkan mulai sekarang, lebih sering memberi kepada keluarga, tetangga, sesama teman prana……… dan sebagainya. Senyumlah kepada orang yang Anda temui.

———-

2 comments on “Dengan memberi, Menerima

  1. ketika kita memberi disana akan terlihat nilai kepedulian & arti keikhlasan, artikel diatas akan membimbing kita jadi insan yg ikhlas dan peduli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s