Jamu, Prana dan Kesehatan

Oleh :  Sr. Rosaline SND.

Obat tradisional oleh Departemen Kesehatan diklasifikasikan sebagai Jamu, Fitofarmaka dan Toga (Tanaman obat Keluarga)

  1. Jamu merupakan “obat” yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan mineral dan atau sediaan galeniknya (bentuk sari) atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang dipergunakan berdasarkan pengalaman dalam upaya hidup sehat.

  2. Fitofarmaka merupakan sediaan obat yang berasal dari simplisia (bentuk kering, rajangan atau yang masih utuh yang diolah sekadarnya dan belum diserbuk) atau sediaan galenik (maksudnya yang sudah dicairkan misalnya: ekstrak, dekokta (sari air), cairan (madu), bentuk minyak (bibit minyak asiri) dan rendaman (gingseng).

  3. Toga merupakan tanaman obat keluarga atau apotik hidup. Tanaman yang ditanam dipekarangan atau halaman rumah, ini umumnya berupa berbagai jenis tanaman obat yang digunakan secara empirik (pengalaman turun temurun) untuk mengatasi penyakit atau keluhan yang umum dirasakan oleh masyarakat; misalnya: diare diatasi dengan daun delima putih atau daun jambu biji.

Jamu – Prana – Kesehatan

Seperti sudah banyak kita ketahui, saat ini pengobatan alternatif menggunakan bahan dari tumbuh-tumbuhan (herbal) berkembang sangat pesat. Peminatnya semakin banyak baik di dalam maupun dari luar negeri.
Terdorong kesadaran untuk “kembali ke alam” atau lebih dikenal dengan slogan “Back to Nature” yang dicanangkan oleh WHO (Badan Kesehatan Dunia) merupakan kegiatan yang memiliki nilai mendasar dan strategis. Banyak negara terpesona dengan keaneka ragaman hayati di Indonesia. Begitu melimpah tanaman “herbal” bisa tumbuh subur disini. Begitu banyak pula jenis yang kita kenal telah terbukti khasiatnya. Belum lagi spesies-spesies yang masih “misteri” menunggu untuk dikuak. Tetapi juga masih banyak sekali tanaman berkhasiat tersia-sia padahal bermanfaat untuk penyembuhan penyakit maupun untuk menjaga kesehatan.

Diakui bahwa banyak di antara obat-obat tradisional, bukan saja memiliki khasiat yang dapat dipertanggung jawabkan tetapi juga kandungan dari komponen bahan-bahannya (asal tanaman) benar-benar tinggi khasiatnya.

Adapun bagian-bagian yang digunakan sebagai obat/jamu, ada beberapa tanaman sebagai sayuran, buah-buahan, akar tanaman, kulit batang, umbi atau bunganya.

Untuk mendapatkan tumbuhan obat tidak sesulit seperti yang diperkirakan. Tidak hanya tersebar di hutan-hutan atau di padang liar, atau tumbuh liar di tepi jalan, tapi juga tumbuh di pekarangan rumah, ditanam di pot-pot bunga, di taman rumah, bahkan sebagai tanaman hias.

Tanaman tersebut dianggap tanaman hias karena memiliki keindahan pada bunga, daun maupun keseluruhan bagian tanaman. Tanaman hias memiliki peran dalam meningkatkan kenyamanan hidup serta menciptakan lingkungan yang bersih dan segar.

Kondisi tersebut merupakan kebutuhan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah perkotaan yang sangat padat dengan berbagai polusi. Tanaman hias dapat memberikan pengaruh positif terhadap upaya mengurangi kepenatan, memberikan rasa segar pada indera dan dapat memberikan nilai tambah pada perekonomian keluarga karena di antara tanaman hias tersebut ternyata memiliki khasiat obat. Jadi mempunyai fungsi ganda.

Memang manfaat dari masing-masing tanaman hias ataupun Toga tersebut tidak sama karena kandungan di dalamnya juga berbeda. Dengan kandungan yang berbeda tersebut maka dibuat ramuan obat yang berasal dari satu tanaman atau dari beberapa tanaman.

Ramuan obat dari tanaman hias ataupun Toga dibuat dengan cara yang sederhana. Jika digunakan dengan baik dan sesuai aturan, ramuan tersebut tidak menimbulkan efek yang merugikan pemakainya karena umumnya ramuan bersifat alami dan tradisional.

Untuk membuat ramuan obat dari tanaman hias ataupun Toga tidaklah sulit karena selain bahannya mudah didapat, bahan di dapurpun ada, seperti misalnya bawang putih, jahe, dan lain-lainnya. Cara dan biaya meramunyapun relatif murah.

Pada umumnya, masyarakat meminum jamu ada yang hanya air rebusan ramuan, tapi juga ada berikut ampasnya, sehingga selain komponen utamanya, berbagai komponen lain yang terkandung juga ikut terminum.

Menurut para herbalis (ahli tanaman obat) komponen tambahan ini memberi efek yang dapat saling menguatkan bagi proses menyembuhkan dan sekaligus memberikan efek saling menetralkan bagi kemungkinan terjadinya efek sampingan.

Dengan demikian, tiap bagian tanaman merupakan obat lengkap karena seluruh kandungan pada tanaman tersebut dapat digunakan.

Kita semua tahu, energi prana dapat kita peroleh selain dari matahari, udara, bumi tapi juga dari tanam-tanaman. Apalagi tanam-tanaman yang dapat digunakan untuk “obat” bagi suatu penyakit, karena selain tanaman itu mengandung komponen zat-zat yang diperlukan untuk penyembuhan penyakit tertentu, juga tanaman itu memancarkan warna-warna aura yang menyembuhkan (warna-warna pelangi). Misalnya contoh yang paling mudah adalah :

Wortel –> memancarkan warna oranye
Apel Hijau –> kandungan potasiumnya tinggi

Keduanya diparut secara tradisional (tidak pakai alat juice), diperas, disaring dan diminum air asli campuran wortel dan apel hijau itu. Minuman ini dapat menghancurkan kista, tumor. Karena apa? Dengan parutan tradisional, aura warna oranye tidak hilang, dan kita tahu prana warna oranye mempunyai efek pembersih yang kuat, baik secara eterik maupun fisik. Secara eterik, ia mengeluarkan tenaga yang sudah dipakai dan tenaga berpenyakit. Secara fisik ia penting sekali, guna menghilangkan zat-zat limbah (berupa kista, tumor).

Apalagi kalau yang disebut “jamu” sebagai “obat” kita beri energi, dan si pasien kita prana, akan lengkaplah usaha untuk menolong sesama kita yang membutuhkan. Juga bila kita menggunakan jamu “obat” dari tanaman lain.

Misalnya:
Ginseng, kalau dilihat secara waskita, auranya sangatlah terang bila dibandingkan dengan obat-obat lain, ia mengandung banyak “prana” dan mengandung efek membersihkan karena bahan keabu-abuan dikeluarkan. Ginseng juga “menggiatkan” dan “memberi energi”. Ginseng yang dikombinasikan dengan jamu-jamu lain dianggap sebagai obat yang praktis dapat “menyembuhkan segala penyakit”.

Disinilah kita melihat hubungan antara :
Jamu – Prana – Kesehatan

Walaupun demikian hal tersebut tidak dimaksudkan mengambil peran dokter atau tabib. Tetapi sekedar memberikan solusi dan pengetahuan tambahan tentang bagaimana cara merawat diri maupun anggota keluarga dan pasien-pasien kita yang sakit. Khususnya bagi yang sudah putus asa menghadapi kenyataan bahwa semua pihak telah menyerah dalam melakukan upaya penyembuhan penyakit.

Dalam makalahnya, Sr. Rosaline SND juga menyertakan 7 halaman daftar Tanaman Hias Berkhasiat Obat di Pekarangan Rumah. Baik yang tumbuh liar maupun yang sengaja ditanam sebagai penghias pekarangan.

—–53——

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s