Kode Etik Penyembuh Prana

SEKALI LAGI TENTANG KODE ETIK PENYEMBUH PRANA

Oleh : Bernard Prasodjo (MP 24).

Walau sudah beberapa kali kita membahas perihal Kode Etik Penyembuh Prana, untuk mengingatkan pentingnya kode etik ini, ada baiknya sekali lagi kita membahasnya, kali ini dengan lebih rinci dan mungkin lebih lugas.

Sebaiknya setiap Penyembuh Prana benar-benar memahami dan menerapkan ke enam butir etika di bawah ini dalam kehidupannya sehari-hari, terutama dalam hubungannya dengan pasien.
Pedoman Etika Penyembuh Prana:

1. Merupakan tanggung-jawab seorang penyembuh untuk berusaha dalam segala kemungkinan, dengan kemampuannya yang tertinggi, menyembuhkan dan meringankan penderitaan pasiennya.

Seorang Penyembuh Prana tidak seharusnya membeda-bedakan pasiennya, bukannya karena pasien tidak membayar, kita asal-asalan dan terburu-buru merawatnya, atau hanya menggunakan teknik tingkat yang lebih rendah, semisal hanya menggunakan teknik tingkat dasar saja. Sebaliknya kalau pasien itu biasanya memberikan amplop yang cukup tebal, baru kita merawatnya dengan sungguh-sungguh, dengan sangat teliti, dan dengan teknik penyembuhan tingkat tinggi, dengan menggunakan kristal misalnya.

Sebaiknya hal yang demikian tidak kita lakukan, baik pasien membayar dalam jumlah besar, atau gratis, perawatan yang kita lakukan seharusnya sama: dengan kemampuan kita yang tertinggi, dengan ketulusan, kasih sayang dan kesungguhan yang sama.

2. Penyembuh berhak menerima imbalan atas pelayanan yang diberikannya, tetapi dia harus menghindari tarip jasa yang terlampau tinggi yang terlalu membebani pasiennya.

Sungguh mengherankan, semakin tinggi tarip seorang penyembuh, semakin banyak pasien yang datang, itu karena pasien beranggapan bahwa pasti karena kemampuannya tinggi, maka dia memasang tarip yang tinggi pula. Seharusnya tarif yang tinggi harus ditunjang dengan kemampuan penyembuhan yang memadai, kita bisa mencapai hal itu antara lain dengan cara terus memurnikan diri dengan mempraktekkan pembentukan watak, diet vegetarian, pembersihan batin, melakukan latihan-latihan spiritual dan meditasi. Kalau tidak, karena orientasinya lebih pada materi (khususnya uang), maka kemampuan penyembuhannya akan menurun, dan tidak heran kalau kemudian pasiennya semakin menyusut dan akhirnya tidak ada lagi.

Seorang penyembuh prana yang baik akan berusaha untuk terus meningkatkan spiritualitasnya, karena semakin tinggi spiritualitas seseorang, semakin tinggi pula kemampuan penyembuhan serta kemanjurannya. Begitu perhatiannya lebih cenderung ke arah materi, seks atau power, maka secara otomatis kemampuan penyembuhannya akan menurun. Karena, kemanjuran penyembuhan berbanding lurus dengan tingkat spiritualitas seseorang. Dengan kata lain, semakin tinggi spiritualitas seseorang, semakin tinggi kemampuan penyembuhannya. Walau cukup penting, seorang penyembuh tidak perlu terlalu terpusat pada “imbalan,” karena kalau kita melakukan penyembuhan dengan tulus, dengan tarif yang biasa-biasa saja atau bahkan tanpa tarip alias sukarela, uang akan datang dengan sendirinya dari sumber lain, kadang dengan cara yang tak terduga! Karena, dengan memberi kita akan menerima!

3. Dalam keadaan bagaimanapun, seorang penyembuh tidak boleh menolak ataupun menghindari pasien karena dia tidak mampu membayar.

Tugas utama seorang penyembuh adalah berusaha sedapat mungkin menyembuhkan pasiennya, baik pasien itu mampu membayar ataupun tidak. Dan memang sulit bagi kita untuk membahas masalah yang satu ini, ada rasa enggan, khawatir di salah-pahami, namun bagaimanapun agar para Penyembuh Prana maupun pasien bisa lebih memahaminya, kita harus membahas perihal uang ini juga. Ini bukan semata untuk kepentingan penyembuhnya, tetapi terlebih untuk kesembuhan pasiennya. Mari sekarang kita mulai membahasnya.

Memang mengherankan, yang memberi sedikit imbalan, tetapi itu diambil dari kekurangannya, lebih besar kemungkinan sembuh dibandingkan dengan orang berada tetapi setiap kali menawar atau terkadang bersikap curang, yang berobat dua orang, membayar Rp. 100 000,-, di lain hari empat orang yang berobat, tetap membayar Rp. 100 000,-. Sulit bagi kita untuk memberikan pemahaman bahwa semakin banyak kita memberi, maka akan semakin cepat kesembuhan terjadi. Dan bagi yang tidak mampu membayar, ada banyak hal yang bisa dilakukannya untuk membalas budi, bisa dengan cara merapikan ruang praktek, dengan menyampulkan buku, dengan mencuci gelas atau bahkan cukup dengan ucapan terimakasih yang tulus. Karena dalam hal semacam ini, diperlukan adanya pertukaran energi. Dalam perbincangan, Master sering membahas masalah imbalan ini, nasihatnya: “Kalau kamu mau cepat sembuh, bayarlah yang banyak!” Tentu saja tidak etis bila seorang penyembuh mengatakan hal semacam itu kepada pasiennya.

Dan yang terpenting, kita harus mensyukuri berapapun imbalan yang kita terima, begitu kita menerima imbalan dari pasien kita, di hadapan pasien, dengan memegang “amplop” tadi di antara kedua telapak tangan kita, kita berdoa lebih kurang sebagai berikut: “Ya Tuhan, terimakasih atas rejeki yang telah Engkau berikan melalui saudara kami ini dalam upaya mengobati penyakit yang dideritanya. Kami mohon berikanlah kepadanya kesembuhan dan kesehatan yang baik, rejeki yang berlimpah, kebahagiaan dan spiritualitas yang lebih tinggi, dengan rasa syukur dan penuh keyakinan, terjadilah!”

Kalau disediakan kotak dan pasien langsung memasukkan amplopnya ke dalam kotak, setelah sesi penyembuhan hari itu selesai, kita “bless” kotak beserta isinya dengan bersama-sama mengangkat kedua tangan dengan telapak menghadap ke kotak, dan mengucapkan doa seperti tadi. (Pembahasan lebih lanjut, baca artikel: Pertukaran Energi)

4. Penyembuh harus merahasiakan data-data penyakit pasiennya, apalagi kalau data tersebut sampai diketahui orang lain, akan mempermalukan pasien itu.

Seperti juga di dunia kedokteran, seorang penyembuh wajib merahasiakan data-data mengenai penyakit pasiennya, bukan malah menceritakannya kepada sembarang orang. Bayangkan kalau seorang pasien datang berobat karena disfungsi ereksi dan begitu dia pulang Anda langsung menceritakan pada pasien lain yang masih menunggu, “Bapak tadi impoten lho!” itu sangat mempermalukan.

Peraturan emas mengatakan: “Jangan perbuat pada orang lain, apa yang kamu tidak inginkan orang lain perbuat atas dirimu”, kalau tidak ingin dipermalukan, jangan mempermalukan orang lain. Jadi jangan menyuruh pasien memasang posisi yang mempermalukan dirinya, ketika Anda merawatnya. Menungging misalnya.

Tetapi demi kesembuhan pasien, dalam forum yang terbatas kita bisa mendiskusikan penyakit pasien itu dengan penyembuh yang lain untuk mencari cara terbaik menangani kasusnya.

5. Dalam situasi apapun, penyembuh sama sekali tidak diperkenankan memanfaatkan situasi dan kesempatan, untuk melakukan perbuatan tidak senonoh pada pasiennya.

Kalau penyakit pasien berhasil diringankan atau disembuhkan oleh seorang penyembuh, biasanya pasien itu menjadi sangat percaya atau bahkan merasa tergantung pada si penyembuh, disuruh melakukan apa saja sebisanya akan dia turuti. Dalam situasi seperti ini seorang penyembuh tidak boleh mengambil kesempatan, apa lagi kalau pasiennya lawan jenis dan cukup menarik. Untuk menghindari hal semacam itu, sebaiknya penyembuhan dilakukan di ruang yang cukup terbuka, sehingga dari luar orang lain bisa melihat proses penyembuhan yang sedang berlangsung di dalam.

6. Seorang penyembuh tidak diperkenankan melakukan penyembuhan, penelusuran, pemberian energi ataupun pengamatan secara waskita tanpa izin dari orang yang bersangkutan atau orang yang terdekat dengannya.

Apa reaksi Anda ketika Anda tahu ada orang yang mengintip ketika Anda sedang mandi? Tentu marah bukan? Tapi kenapa? Karena ada orang yang mau melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihatnya. Orang yang bermoral tidak akan melakukan hal semacam itu.

Demikian pula dengan melakukan penelusuran, pemberian energi, perawatan atau pengamatan secara waskita tanpa izin orang yang bersangkutan, itu tidak diperbolehkan, dengan alasan yang sama seperti di atas. Tentu hal ini ada pengecualiannya. Kalau misalnya Anda menemukan orang yang sedang terkena serangan jantung di pinggir jalan, kalau Anda menunggu izinnya terlebih dahulu bisa-bisa terlambat, jadi lakukan saja penyembuhan prana walaupun tanpa izin. Seorang pasien yang datang kepada kita minta disembuhkan sudah pasti memberikan izin untuk dirawat, kita tidak perlu menanyakannya.

Bayi, orang sakit jiwa, orang yang sedang dalam keadaan koma, pingsan, depresi berat dan sebagainya tentu tidak dapat memberikan izin, tetapi Anda bisa melakukan perawatan kepada mereka dengan izin dari kerabat dekatnya, orang tua, anak, saudara dan sebagainya.

Yang penting, kalau niat kita baik, untuk menolong sesama, kita bisa langsung melakukan perawatan tanpa meminta izin terlebih dahulu, tetapi kita juga harus dengan bijak, berdasarkan nurani, menentukan boleh tidaknya kita melakukannya. Kemudian dalam hati, dengan sungguh-sungguh kita meminta izin pada pasien. Karena ini merupakan hal yang serius, jangan digunakan untuk bercanda. Misalnya tanpa ujung pangkal seseorang tiba-tiba menelusuri cakra seks temannya, kemudian berkomentar “Wah, cakra seksnya besar amat!” Jangan pernah melakukan hal semacam itu.

Di sebuah kota, ada penyembuh yang punya kepercayaan diri yang terlalu berlebihan. Setiap kali dia melakukan penelusuran jarak jauh kepada Master, kemudian menarik kesimpulan: Hari ini cakra-cakra Master terkuras. Maka kemudian dia memberikan energi untuk memperbesar cakra Master. Luar biasa.
Kalau kita sudah mempelajari Meditasi pada Guru, untuk melakukan meditasi ini disarankan agar sebelumnya selama seminggu berturut-turut kita mempersiapkan diri dengan makan vegetarian dan menjaga emosi serta pikiran kita, baru setelah itu kita boleh melakukan Meditasi Pada Guru (disitu dengan cara tertentu kita hanya memberikan penghormatan dengan memancarkan energi cinta, tidak secara langsung memproyeksikan energi kepadanya).

Dapat kita bayangkan bagaimana jadinya kalau orang yang memberikan energi tadi masih merokok, masih makan daging, bahkan daging babipun masih dikonsumsinya. Dengan demikian sebenarnya dia hanya mengotori energi Master, karena energinya dapat dipastikan sangat kotor. Kasihan Master. Semestinya dengan penuh kerendahan hati kita harus bisa mengukur diri. Jangan menilai diri terlampau tinggi. Dan yang perlu dicamkan: “Ketidak tahuan tidak akan menghilangkan karma buruk akibat perbuatan yang dilakukan.”

Secara garis besar, sebaiknya seseorang dengan energi yang lebih kotor, jangan memberikan energi pada orang yang energinya lebih bersih, karena itu hanya akan mengotorinya. Itulah sebabnya dalam lokakarya penyembuhan prana, di atur sedemikian rupa agar perokok berpasangan dengan perokok, dengan demikian dalam praktek penyembuhan, dia tidak mengotori energi orang yang tidak merokok, karena pada umumnya energi orang yang tidak merokok lebih bersih dari orang yang merokok.
Mudah-mudahan kode etik penyembuh prana ini sungguh-sungguh kita pahami dan kita hayati, demi kebaikan kita sebagai penyembuh, dan terutama demi pasien-pasien kita.

———-

One comment on “Kode Etik Penyembuh Prana

  1. bagus sekali pak Pras, ini akan menjunjung tinggi nama ” penyembuhan Prana GMCK” Pernah Kita dengar langsung dari Master waktu memberikan Lokakarya di Jakarta ” silahkan anda tentukan tarip ,karena anda juga perlukan pengeluaran, sewa2…..dll tetapi berikan pelayanan yg sesuai ( dalam hal ini yg dimaksud keseimbngan energi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s