Lebih Jauh Mengenal Master

Oleh : E. Suhardo NW.

Sebelum saya mengikuti lokakarya penyembuhan dengan tenaga prana Tingkat Dasar, saya sudah mempunyai buku karangan GrandMaster Choa Kok Sui “Ilmu dan Seni Penyembuhan Dengan Tenaga Prana.” Dengan membaca bukunya saja, saya sudah dibuat kagum kepada pengarangnya. “Pengarang buku ini luar biasa” pikir saya. GrandMaster Choa Kok Sui tidak hanya membeberkan teknik-teknik dasar penyembuhan, tetapi juga menyejukkan pembacanya dengan nilai-nilai spiritual yang terasa sungguh dihayatinya. Belia juga adalah penulis yang sangat murah hati. Ilmu Penyembuhan dengan Tenaga Prana yang ditekuninya selama lebih dari 20 tahun dipersembahkan begitu saja kepada masyarakat dengan buku yang harganya relatif sangat murah.

Setelah saya mengikuti lokakarya Tingkat Dasar, Tingkat Lanjut, Tingkat Psikoterapi, kesan saya terhadap GrandMaster Choa Kok Sui semakin positif. Oleh sebab itu tidak tanpa alasan kalau para pelatih memberi rasa hormat dan cintanya yang begitu tinggi kepada beliau. Ada rasa keinginan yang mendalam pada diri saya untuk bertemu atau dapat bertatap muka dengan beliau. Pokoknya saya berketetapan hati untuk mengikuti lokakarya dari GrandMaster Choa Kok Sui sampai saya dapat bertemu muka dengan beliau.

Selanjutnya saya mengikuti lokakarya Kristal, Yoga Arhatik Tingkat Persiapan, dan Psychic  Self Defense yang dibimbing oleh Miss Herminia, asisten beliau. Sebagai pembicara dan pembimbing kemampuan Miss Herminia sungguh luar biasa. Selain staminanya yang begitu prima sampai-sampai para penerjemah kewalahan, alur pembicaraannya mengalir begitu lancar dan sistematis. Dia yang tidak pernah melihat catatan dan sungguh menguasai permasalahannya. Miss Herminia sungguh guru yang bagus.

Nah, kalau asistennya saja begitu prima penampilannya, tentu penampilan Gurunya lebih hebat lagi. Apalagi Miss Herminia selalu menunjukkan rasa hormat dan cinta yang begitu tinggi kepada GrandMaster Choa Kok Sui di mana seolah-olah dia tidak ada apa-apanya dihadapan beliau. Malahan ada kesan  sepintas kalau dia mengkultuskan beliau. Tentu hal ini membuat saya lebih penasaran lagi untuk dapat bertemu dengan GrandMaster Choa Kok Sui.

Akhirnya keinginan saya yang mendalam itu terkabul. Meskipun kondisi kesehatan agak terganggu karena flu berat, saya dapat mengikuti lokakarya Kriya Shakti, Meditation for Soul Realization dan Retret Yoga Arhatik yang langsung dipimpin oleh GrandMaster Choa Kok Sui. Lokakarya di laksanakan di Puncak. Pertemuan pembukaan dipersiapkan oleh Miss Herminia. Baru saja acara dimulai tiba-tiba ada goncangan gempa yang cukup besar, sekitar 6 skala richter. Banyak peserta lari terbirit-birit hendak keluar gedung, tetapi dicegah oleh Miss Herminia. “Tenang-tenang! Apakah dengan lari Anda menyelesaikan masalah? Mari kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Agung agar dihindarkan dari musibah”.  Kata Miss Herminia. Doapun dilakukan bersama secara khusuk, dan ternyata memang tidak terjadi musibah sama sekali. Ketenangan dan kematangan spiritual Misa Herminia sungguh luar biasa, dan ini tentu hasil gemblengan dari Sang Guru.

Akhirnya idola yang ditunggu-tunggu masuk ruang pertemuan. Sosok tubuhnya tinggi-besar, sorot matanya redup namun tajam, penampilannya penuh wibawa. Dengan rendah hati GrandMaster Choa Kok sui mengatupkan kedua tangannya di dada dan memberikan salam: “Namaste, namaste, namaste…” Salam beliau disambut semua peserta dengan penuh semangat.
Dalam mengajar beliau banyak senyum, banyak humor, namun tetap serius dan tegas. Beliau tidak segan-segan memperingatkan peserta yang menguap dimuka Gurunya. Demikian pula peserta yang kurang serius mengikuti pertemuan itu diharap keluar ruangan. Dengan sabar beliau menyampaikan ajarannya yang sangat berbobot itu. Banyak contoh diberikan agar peserta lebih mudah memahaminya. Sungguh sangat terasa ilmu yang diberikannya sudah mendarah daging dalam dirinya. Ilmu dan praktek sungguh menyatu dalam diri beliau. Inilah yang membedakan beliau dengan guru-guru lainnya. Kebanyakan guru pandai menyampaikan ilmu tetapi prakteknya diabaikan, sehingga muncul istilah NATO (No action talk only). Saya tidak tahu mengapa dalam kondisi flu cukup berat saya masih mampu mengikuti meditasi berat yang dipimpin beliau. Apakah beliau secara diam-diam memancarkan energi prana terutama kepada mereka yang kondisi fisiknya sedang lemah? Teman-teman penyembuh prana yang saya tanya mengiyakan hal itu. Namun yang jelas, ketika beliau memberikan berkat dengan mengangkat kedua tangannya, energi lembut dan berat terasa sekali masuk dalam tubuh dan terasa sangat nyaman, sedangkan saya berdiri di barisan paling belakang di ruangan luas yang dapat dipakai untuk main bola basket itu. Berkat beliau sungguh jauh lebih berbobot bila dibandingkan dengan berkat seorang pemimpin dari aliran penyembuhan lain yang pernah saya rasakan. Pancaran aura dan energi beliau sungguh luar biasa besarnya!

Dan yang membuat saya kagum adalah ketika beliau melakukan terapi hanya dengan kata “Tatap mata saya!” Para penyembuh yang kebetulan sakit antri untuk beliau sembuhkan hanya dengan cara menatap mata beliau. Siapakah beliau sehingga mempunyai kekuatan penyembuhan yang demikian besar? Yang saya yakini adalah tingkat spiritualitas beliau begitu tinggi, pribadi ilahinya begitu berkembang dan besar, sehingga beliau mampu melakukan penyembuhan spektakuler seperti itu.

Saya bertemu lagi dengan GrandMaster Choa Kok Sui tahun 2001 ketika mengikuti Konvensi Penyembuh Prana Nasional, retret Yoga Arhatik, dan Yoga Arhatik Tingkat 1 dan 2 di Jakarta. Kalau waktu di Puncak beliau nampak begitu serius dan capai, kini beliau nampak begitu segar dan santai. Keramahan beliau juga sangat kental. Ketika peserta sedang makan beliau berkeliling untuk memberi salam kepada para peserta.

Dalam Konvensi Nasional ini ada cukup banyak presentasi. Beliau nampak sangat memperhatikan setiap pembicara dan ikut bertepuk tangan ketika pemaparan naskah selesai. Rupanya beliau juga sangat menghargai penemuan-penemuan baru tentang energi prana. Beliau mendukung percobaan-percobaan yang dilakukan oleh penyembuh para prana. Suatu penemuan baru tidak harus datang dari beliau. Ketika salah satu pembicara mengutarakan pengalamannya tentang membuat hujan dan memindahkan hujan dengan tenaga prana, beliau nampak antusias mendengarkannya. Dan ketika saya mengutarakan juga pengalaman saya memindahkan hujan dengan metode yang lain, yaitu dengan meditasi “Om” beliau juga nampak senang mendengarkannya, bahkan beliau mengangguk-angguk. Sikap keterbukaan dari seorang mahaguru menerima penemuan baru dari para muridnya yang berada pada level jauh di bawahnya, sungguh menunjukkan bahwa beliau seorang ilmuwan sejati, selain beliau mempunyai jiwa yang besar. Bukankah pada umunya seorang guru besar dan pakar dalam bidang tertentu sangat sulit atau malahan tidak mau menerima gagasan baru dari mahasiswanya? Pernah teman kuliah saya dihardik keluar kelas gara-gara berdebat dengan dosen tentang hal yang dianggapnya tidak logis.

Pada pertemuan itu banyak ajaran baru yang sangat berbobot diberikan beliau. Misalnya, kalau kita diserang seseorang jangan membalas dengan serangan, tetapi berkatilah dia. Ajaran ini sungguh bertentangan dengan hukum yang berlaku di masyarakat. Pada umumnya orang berkata, “Kalau kamu dipukul, balaslah memukul, kalau kamu disakiti, balaslah dia, kalau perlu bunuh dia”. Ajaran baru ini menunjukkan bahwa beliau mempunyai tingkat spiritual yang sangat tinggi. (bdk. Michael Bradford: Hands-On Spiritual Healing, hal 152). Untuk membuktikan bahwa ajaran itu benar, maka diberi contoh seorang yang ahli tenaga dalam menyerang seorang ibu yang tidak mempunyai kepandaian apa-apa tentang beladiri. Ibu diminta untuk mengucapkan kata, “Tuhan memberkati kamu” sambil kedua tangannya bersikap memberkati. Ternyata, ketika ibu itu diserang, bukan dia yang terpental, tetapi justru orang yang menyerangnya yang terpental.

Waktu sesi Yoga Arhatik Tingkat 2 beliau memberi contoh bagaimana dapat menyembuhkan dengan cepat. Waktu yang dipakai hanya 1-2 menit saja. Setiba di rumah, ajaran beliau saya praktekkan. Ketika itu ada  pengurus YPI Perwakilan yang kena musibah lalu lintas. Dia yang sudah tua itu ditabrak pengendara sepedamotor sehingga kakinya cedera. Sewaktu dia cerita via telepon, saya menyalurkan energi penyembuhan dengan teknik yang baru saja diajarkan oleh GrandMaster Choa Kok Sui tanpa memberitahunya. Setelah tiga menit, pembicaraan telpon diakhiri, teman tadi menelepon lagi dan mengutarakan keheranannya karena kedua kakinya semakin enak dan ringan. Dia tanya, apakah saya mengirimkan energi penyembuhan? Teknik penyembuhan ajaran beliau itulah yang selalu saya praktekkan dalam dialog interaktif di radio. Biasanya mereka yang menelpon ke studio, selain menanyakan tentang penyakit, mereka juga minta dikirimi energi penyembuhan. Hasilnya sungguh luar biasa! Lebih dari 90% penelepon sungguh merasakan sensasi penyembuhan. Mereka seketika itu juga merasa ada aliran energi yang masuk ke tubuhnya. Bahkan banyak diantara mereka mengatakan kalau sakitnya sudah banyak berkurang, sudah sangat ringan, pusing sudah hilang. Malahan ada yang secara spontan berkata, “Prana itu hebat ya!” Dan saya menjawabnya, “Yang lebih hebat lagi adalah GrandMaster Choa Kok Sui yang mengajarkannya”.

Meski biaya Konvensi Penyembuh Prana Dunia ke 5 di Bali bulan Oktober lalu dirasa cukup berat, saya berusaha untuk dapat mengikuti seluruh acara. Saya percaya setiap bertatap muka dengan GrandMaster Choa Kok Sui saya selalu mendapatkan pengalaman baru yang sangat mahal harganya, jauh lebih mahal dari biaya yang saya keluarkan.

Dalam Konvensi Internasional ini beliau nampak segar, penuh senyum, dan sangat ramah. Beliau berkeliling memberi salam kepada para peserta. “Namaste, namaste, namaste…” katanya sambil tersenyum. Sungguh terasa nuansa keakraban di antara Guru dan para muridnya. Keramahan dan kelembutan beliau tidak mengurangi kewibawaannya, tetapi justru menambahnya. Para murid nampak semakin mencintai beliau dan menghormati beliau. Sikap hormat yang begitu dalam sangat nampak diberikan oleh para Master yang menyampaikan presentasinya kepada beliau. Dalam diri saya tersimpan pertanyaan, “Mengapa para Master yang hidupnya begitu dekat dengan beliau bersikap seperti itu?” Tentu bukan untuk mencari muka karena GrandMaster Choa Kok Sui bukanlah seorang diktaktor atau bersikap otoriter. Beliau adalah orang yang sangat menghargai sesamanya, termasuk para muridnya. Beliau adalah orang yang bersikap terbuka. Bisa jadi jawabannya adalah karena beliau adalah orang super yang sulit dicari tandingannya.

Dalam acara tour saya melihat sikap beliau yang sangat sabar. Untuk makan siang di suatu tempat saja para peserta harus duduk di bus selama lebih dua jam. Sungguh membosankan! Tetapi saya yang berada dalam satu bus bersama beliau melihat beliau tetap tenang. Beliau tidak nampak menggerutu. Saya pikir beliau tidak mau menyakiti hati panitia yang sudah bekerja ekstra keras. Namun pada tour hari kedua jadualnya berubah drastis dari rencana semula. Ketika itu saya menduga hal itu tentu usulan dari beliau. Namun ternyata perubahan acara itu menimbulkan perdebatan. Peserta dari Jerman tetap ngotot agar rencana semula dilaksanakan. “Saya sudah membayar biaya sesuai dengan rencana yang ditawarkan, saya tidak mau yang lain” katanya keras. Beberapa peserta dari Barat mendukung usulan itu. Akhirnya pramuwisata mengatakan bahwa usulan perubahan itu datang dari GrandMaster Choa Kok Sui. Dengan cepat peserta dari Jerman itu berkata lembut, “Kalau itu yang dimaui Master Choa, saya ikut saja”.

Saya tidak habis pikir, orang Jerman yang terkenal tegas tanpa kompromi dan selalu mengandalkan pikiran itu ternyata bersikap sebaliknya. Dia pasrah begitu saja terhadap kemauan GrandMaster Choa Kok Sui. Hal ini menunjukkan bahwa beliau sungguh dianggap sebagai manusia super di mana para murid tergantung sepenuhnya kepadanya. Beliau itu adalah lebih dari manusia “linuwih”.

Ketika pementasan drama Calon Arang dipertunjukkan, beliau menonton dengan penuh perhatian. Setelah pertunjukkan selesai beliau mengambil keris yang dipakai untuk menusuk Calon Arang di mana keris yang terbuat dari besi yang tebal itu bengkok. Beliau menunjukkan kepada para peserta, keris yang bengkok itu dengan perasaan kagum. Bagi saya sikap beliau ini menunjukkan sikap terbuka beliau akan sesuatu yang baru, disamping sangat menghargai nilai budaya masyarakat setempat.

—–49——
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s