Mulai Lagi Dari Awal

Oleh : Bernard Prasodjo

Jono sangat bersyukur kepada Tuhan, kehidupannya berjalan lancar dan memuaskan, anak yang sudah lama didambakannya telah lahir dengan selamat, sehat dan tampan, selain itu ekonominya terus meningkat. Dia sangat yakin bahwa itu semua diperolehnya setelah dia mempraktekkan ajaran yang didapatnya ketika mengikuti lokakarya prana. “Dengan memberi, kita menerima,” tetapi bukankah kita harus memberi dengan penuh ketulusan dan tanpa pamrih apapun? Salahkah yang dilakukannya selama ini?

Dalam pergaulannya sehari-hari, dalam prakteknya sebagai seorang penyembuh prana, dia selalu berusaha sebaik mungkin menolong dan berusaha menyembuhkan yang sakit, banyak di antara pasiennya yang dibebaskannya dari membayar, bahkan ada beberapa yang diberinya uang untuk ongkos transport agar nanti bisa datang lagi untuk melanjutkan perawatan sampai tuntas. Dia selalu peduli kepada sesama, dia menjadi begitu murah hati. Tetapi ketika dia merenungkan: Dengan memberi, kita menerima, walau dikatakan itu adalah hukum yang universal, namun kalau kita memberi dan kemudian tahu atau bahkan mengharapkan agar kelak kemudian hari akan menerima, maka kita akan mengharapkan sesuatu, bukankah itu penuh dengan pamrih? Adakah ketulusan di situ? Kemudian dia mencoba mengingat apa yang dikatakan pelatih prana yang membahas mengenai hukum sebab akibat ini.

“Kalau kita memberi dengan harapan memperoleh imbalan atau balasan dari orang yang kita beri, itu namanya punya pamrih. Sama halnya dengan kita memberikan sejumlah uang agar memperoleh proyek, di sini hubungan itu adalah antara si pemberi dan yang menerima. Kita tidak melakukan hal yang demikian, kita memberi, tanpa mengharapkan sesuatu dari yang kita beri, yang kita harapkan adalah agar Tuhan memberikan rejeki kepada kita, hubungan manusia dengan Tuhannya memang penuh dengan pamrih, kebanyakan dari kita berbuat kebaikan agar kelak masuk surga bukan? Dan jangan lupa, hukum timbal balik itu tetap bekerja baik kita pahami ataupun tidak, dan kebetulan saja kita memahaminya.”

Bagaimanapun, dia sangat bersyukur diberi kemampuan penyembuhan dan ternyata pasiennya banyak yang sembuh, itulah sebabnya sekarang pasiennya sangat banyak. Tetapi walaupun seluruh waktunya habis untuk itu, dia selalu menyempatkan diri untuk berdoa dan bermeditasi, karena dia sangat yakin bahwa kekuatan penyembuhannya akan meningkat kalau dia rajin bermeditasi dan penyembuhannya tidak akan manjur kalau dia tidak bermeditasi.

Teras rumahnya yang dijadikan “ruang tunggu” sekarang dipenuhi bangku-bangku panjang itu tidak pernah sepi, ruang tamunya yang sempit dijadikan tempat “praktek”, sekarang dia menjadi penyembuh yang cukup terkenal, tidak hanya di kampungnya saja, pasiennya datang dari mana-mana, bahkan dari kota lain.

Untuk meningkatkan pengetahuannya tentang penyembuhan prana, setiap ada pertemuan prana, dia selalu hadir. Dia juga selalu mengikuti lokakarya-lokakarya prana lanjutan. Itu semua dilakukannya untuk meningkatkan diri demi kesembuhan pasiennya, dan seiring dengan itu ternyata kesejahteraannya semakin meningkat jumlahnya.

Setelah berunding dengan isterinya, mereka berkeputusan menutup warung mie rebus mereka, agar isterinya bisa lebih berkonsentrasi merawat anaknya. Bukankah penghasilannya sekarang sudah lebih dari cukup?

Waktu terus berlalu, kehidupan Jono semakin mapan, pasien juga terus berdatangan, praktis tidak ada waktu lagi untuk hal-hal lain, dari pagi sampai malam dia terus bekerja merawat pasien yang datang silih berganti. Beberapa teman penyembuh dan seorang pelatihnya mengingatkannya, dengan cara kerja yang semacam itu, lama kelamaan tubuhnya akan terkuras dan jatuh sakit, kenapa tidak menyediakan waktu untuk istirahat, misalnya libur setiap hari  Jum’at dan Minggu, atau klinik tutup dari jam 12.00 sampai jam 15.00, sehingga ada waktu baginya untuk beristirahat dan mengumpulkan tenaga. Tetapi Jono tidak menanggapinya dengan serius, irama kerjanya tetap sama, pagi jam 7.00 dia sudah menerima pasien dan itu tak ada hentinya sampai larut malam, kadang makanpun tidak sempat. Apa lagi untuk sembahyang dan bermeditasi, semakin hari semakin jarang dia bermeditasi, demikian pula tak ada waktu lagi untuk berkumpul bersama sesama penyembuh prana. Ketika seorang temannya menasehati agar dia tidak melupakan sembahyangnya dan memberikan semacam wejangan agar dia terus bermeditasi, dalam hati dia malah berpikir: “Ah, sok tahu dia, darimana dia tahu kalau aku tidak pernah sembahyang dan bermeditasi? Yang dikatakannya tadi juga bukan hal yang baru. Itu kan cuma karena kesombongan spiritualnya saja.” Jono mulai berubah, tanpa disadarinya, egonya mulai tampil. Memang sulit untuk  mempertahankan kerendahan hati ketika seseorang sudah mulai tersohor.

Untuk memperbesar “kliniknya” dia berencana membeli rumah yang lebih besar di sebelah rumah yang dikontraknya itu. Tetapi setelah dihitung-hitung, uangnya ternyata belum cukup, jiwa bisnisnya mulai timbul, sekarang pasiennya harus terlebih dahulu mendaftar, dia istilahkan mengambil nomor, dengan membayar duaribu rupiah, lama-kelamaan dia mulai memasang tarip, semakin lama semakin tinggi, nampaknya dia mulai komersial.

Seperti yang biasanya terjadi pada hal semacam ini, karena dia tidak pernah bermeditasi, tidak lagi mengembangkan spiritualitasnya dan menjadi sangat komersial, kemanjuran penyembuhannyapun mulai menurun, sedikit demi sedikit pasiennya mulai menyusut, kliniknya berangsur menjadi semakin sepi.

Dia mulai bertanya-tanya dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada penyembuh lain yang berpraktek di dekat rumahnya? Atau mungkin semua pasiennya sudah sembuh? Tapi mengapa jarang ada pasien baru yang datang? Kenapa sekarang dia menjadi sakit-sakitan? Apa sebenarnya yang salah?

Ternyata isterinya lebih dahulu menyadari, dengan perasaannya yang lembut dia mulai mengerti, mengapa semua ini bisa terjadi, sebelum terlambat, diuraikannya semuanya kepada suaminya. Walau dia sendiri tidak mempelajari penyembuhan prana, tetapi dari interaksi setiap hari dengan suaminya, dia sedikit memahami ajaran penyembuhan prana juga.

“Mas, sepertinya aku tahu, kenapa belakangan ini praktek mas semakin sepi, boleh jadi karena mereka tidak kunjung sembuh.” Jono tidak menanggapi, dia hanya menghela napas panjang, isterinya melanjutkan,”Coba mas Jono mulai meditasi lagi, bukankah dengan bermeditasi penyembuhan yang dilakukan akan semakin manjur? Bukankah dulu mas Jono sendiri yang bilang begitu?” Tidak ada tanggapan…

“Sebaiknya untuk sementara kita lupakan saja rumah sebelah, kalau memang milik kita, nanti pasti ada rejeki dari tempat lain. Maksudku mulai besok kembali saja seperti tahun lalu, tidak usah pasang tarip, suka rela saja.”

“Memangnya salah, kalau kita pasang tarip?”

“Tidak juga, selama taripnya tidak terlalu tinggi dan terlalu membebani pasien, coba mas lihat, sekarang hampir tidak ada lagi pasien tidak mampu yang datang kemari. Itu tentu karena mereka tidak mampu membayar.”

“Benar juga ya, tetapi sampai sekarang aku tidak begitu paham mengenai apa yang dikatakan kawan-kawan, apa hubungannya komersiil dengan kemanjuran?”

“Masa mas lupa, kan dulu mas sendiri yang bilang, begitu orang menjadi komersiil atau mementingkan materi saja tanpa memikirkan kesulitan orang lain, spiritualitasnya menurun, itu berarti cakra mahkotanya mengecil, tali spiritual mengecil, sehingga energi spiritual tidak bisa mengalir turun dengan lancar, pada hal itu sangat diperlukan dalam penyembuhan. Juga karena kesulitan menarik energi spiritual, ketika menyembuhkan, yang dipakai adalah cadangan energi dalam tubuh si penyembuh, lama kelamaan dia jadi terkuras, menjadi lemah dan kemudian jatuh sakit, kalau sudah begitu sangat sulit disembuhkan. Ingat?”
“Isteriku ini memang hebat, mulai besok aku mau mulai lagi dari awal, tidak perlu gengsi. Setuju?” Isterinya mengangguk senang, mereka berangkulan mesra.

Seperti kita duga, semuanya berangsur normal, kliniknya sedikit demi sedikit menjadi ramai kembali, itu karena Jono kembali rajin beramal dan bermeditasi. Walaupun imbalannya lumayan, dia tidak mau lagi dipanggil ke rumah-rumah orang berada atau orang terpandang untuk melakukan penyembuhan di sana, kasihan pasien yang sudah lama menunggu di rumahnya. Dia berpegang pada salah satu kode etik penyembuh prana, tidak memprioritaskan pasien tertentu.

Banyak pasien berpenyakit berat yang dirawatnya berangsur membaik dan akhirnya benar-benar sembuh. Yang mengesankan, seorang pria berusia empatpuluhan ketika itu datang berobat, tubuhnya kurus kering dan sangat lemah, wajahnya pucat, napasnya tersengal-sengal dan nampak sangat menderita, dia sudah berobat ke mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri, tetapi kanker tenggorokannya bukannya bertambah membaik, malah sebaliknya, menjadi semakin parah, dokter sudah angkat tangan dan diperkirakan hidupnya tidak akan lama lagi.

Dengan tekun dan penuh cinta, Jono merawatnya dua hari sekali, selain itu di malam hari setelah selesai bermeditasi, dia merawatnya dari jauh, walau kadang pikiran negatif masih saja menggoda: “Bagaimana dia tahu kalau di malam hari aku dengan sungguh-sungguh dan dengan tekun merawatnya? Ini bukan masalah imbalan, tetapi paling tidak dia harus tahu sehingga lebih menghargai ketulusanku…..” Tetapi kemudian suara lain menimpali: “Jangan terjebak oleh ego, buat apa dia tahu, yang penting dia tidak menderita lagi dan bisa segera sembuh. Penghargaan itu tidak perlu, bukankah kita sekedar menjadi saluran penyembuhan saja?” dia segera tersadar.

Selain itu, sesuai dengan yang dipelajarinya, juga disarankannya agar pasien itu sama sekali pantang makan daging, lebih banyak beramal, dan bersedia memaafkan, karena dengan memaafkan banyak pasien yang menderita penyakit beratmenjadi lebih mudah disembuhkan.

Selain pasien yang sakit berat, sekarang mulai berdatangan lagi pasien yang kurang mampu, Jono tetap melayaninya dengan tulus.

Dan yang mengherankannya, walaupun imbalannya sukarela, ternyata pendapatannya tidak berkurang, kalau dibandingkan dengan ketika dia mengenakan tarip. Itu sangat di syukurinya, dan yang paling membahagiakan,  di sela-sela kesibukannya mengurus rumah tangga, sekarang isterinya bisa sedikit membantu, dia telah mengikuti kursus prana sampai tingkat yang ketiga, psikoterapi prana.

Nampaknya semua berjalan dengan lancar, jam 8 pagi klinik dibuka sampai jam 12 siang, istirahat 2 jam, kemudian buka kembali mulai jam 2 siang sampai jam 7 malam, hari Jum’at setengah hari dan hari minggu tutup. Dengan demikian Jono punya cukup waktu untuk beristirahat, santai sebentar bersama keluarga, berlatih dan meningkatkan spiritualitasnya. Jono benar-benar menikmati perannya. Hidupnya bahagia dan sejahtera…….

Dan, kira-kira setahun kemudian datang seorang bekas pasien yang dulu menderita kanker tenggorokan dan berhasil disembuhkan, dia menyerahkan kunci dan surat-surat “rumah sebelah” sebagai tanda terimakasih atas pertolongan yang pernah diterimanya, sehingga sekarang dia segar bugar, sehat wal afiat dan bisa berbisnis kembali.

Dari mana bisa tahu kalau dulu dia pernah menginginkan rumah itu? Rupanya Tuhan mengatur semuanya.

—–38——

One comment on “Mulai Lagi Dari Awal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s