Efek Rumah Kaca

Sebelumnya beberapa kali telah disebut mengenai efek Rumah Kaca, apa sebenarnya yang dimaksudkan? Efek Rumah Kaca atau Greenhouse Effect ditemukan oleh Joseph Fourier pada tahun 1824. Ini adalah proses di mana penyerapan dan emisi radiasi infra merah oleh gas-gas atmosfir memanaskan atmosfir bagian bawah serta permukaan bumi.

Keberadaan Efek Rumah Kaca ini tidak terbantahkan. Secara alami keberadaan gas rumah kaca ini kira-kita mempunyai efek memanaskan bumi sekitar 330 C, dan tanpa itu bumi tidak dapat ditinggali. Masalahnya adalah karena kekuatan efek rumah kaca sekarang ini berubah akibat aktifitas manusia yang meningkatkan konsentrasi gas-gas Rumah Kaca di atmosfir.

Di bumi gas rumah kaca yang terbanyak adalah uap air, yang menyebabkan 36-70% efek Rumah Kaca (tidak termasuk awan), berikutnya carbon dioksida (CO2) yang mengakibatkan efek rumah kaca antara 9-26%, methane (CH4), mengakibatkan 4-9%, dan ozone, yang mengakibatkan 3-7%.

CH4 merupakan gas Rumah Kaca yang lebih efektif dibandingkan carbon dioksida, tetapi konsentrasinya lebih sedikit sehingga kekuatan total radiasinya hanya seperempat dari CO2. Beberapa gas lain yang muncul secara alami hanya menyumbang sedikit pada Efek Rumah Kaca, salah satunya, nitrous oksida (N2O) konsentrasinya meningkat akibat kegiatan manusia di bidang pertanian.

Konsentrasi CO2 di atmosfir meningkat 31% sedangkan CH4 meningkat 149%, ini terjadi sejak dimulainya Revolusi Industri dipertengahan abad ke 17. Tingkat ini diyakini jauh lebih tinggi dibandingkan masa-masa sejak 650.000 tahun terakhir. Hal ini bisa dibuktikan secara meyakinkan dengan penelitian yang dilakukan pada inti es. Dari bukti-bukti geologis itu diyakini bahwa nilai CO2 yang dicapai saat ini belum pernah terjadi sejak 20 juta tahun yang lalu. Bahan bakar fosil telah menyebabkan peningkatan CO2 sebanyak tigaperempat kali karena ulah manusia 20 tahun terakhir. Sisanya kebanyakan diakibatkan karena perubahan pemanfaatan tanah, kususnya pembabatan hutan.

Peningkatan carbon dioksida di atmosfir

Pengukuran CO2 yang dilakukan setiap bulan menunjukan adanya sedikit pergeseran musim tahunan. Yang maksimumnya terjadi di bumi belahan utara menjelang musim semi dan minimumnya terjadi pada musim panas, di mana banyak tumbuhan menyerap CO2 dari atmosfir.

Konsentrasi CO2 di atmosfir saat ini adalah 385 perjuta bagian volumenya. kedepan diperkiraan tingkat CO2 meningkat karena terus digunakannya bahan bakar fosil dan penggundulan hutan. Peningkatannya tergantung pada ketidak pastian ekonomi, sosial, teknologi serta perkembangan alami, namun akan sangat tergantung pada ketersediaan bahan bakar fosil.

Diperkirakan tahun 2100 nanti, konsentrasi CO2 akan menjadi sekitar 541-970 per juta volume. Persediaan bahan bakar fosil masih cukup banyak sehingga perkiraan di atas mungkin terjadi, bila batubara, pasir tar, minyak bumi dan methane chaltrate masih digunakan secara ekstensif.

———-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s