c. Ucapan yang Ramah

Dengan menjaga ucapan Anda, Anda mendidik anak-anak Anda bahwa orang yang punya harga diri tidak bergunjing, menyebarkan kabar bohong, atau bicara penuh kedengkian.

Cerita berikut mengisahkan tentang tiga orang pendeta yang berperahu ke tengah danau untuk memancing. Salah satu dari mereka berkata kepada kedua temannya, “Sekarang kita di sini, jauh dari gereja dan orang-orang yang kita layani, jauh dari kewajiban suci kita. Mari kita saling berkata jujur, dan mengakui kesalahan terburuk kita. Seperti saya misalnya, menyukai segala barang yang mahal. Tapi gajiku yang kecil tidak cukup untuk membeli benda-benda yang ku inginkan. Jadi sesekali aku mengambil sedikit uang dari kotak amal.”
Pendeta yang kedua berkata, “Ya, selama kita saling berkata jujur, akan kukatakan pada kalian, kelemahanku adalah berjudi. Saya akan bertaruh untuk semua hal, pertandingan sepak bola, biliard, terutama pacuan kuda.”
Pendeta yang ketiga tetap diam, akhirnya kedua temannya berkata, “Kami telah mengakui dosa kami yang paling besar. Sekarang giliranmu. Katakan, apa tundakan burukmu yang terbesar?”
Dan pendeta yang ketiga ini berkata, “Dosa terbesarku adalah suka bergosip, dan sekarang aku sudah tidak sabar untuk segera pulang.”

Sejak usia dini, anak-anak dapat belajar bahwa perkataan yang gegabah dapat sangat menyakitkan. Pernahkah Anda berkemah bersama anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun? Pernahkah Anda ikut dalam malam pesta gadis-gadis berusia tigabelas tahun? Cara mereka membicarakan teman mereka yang lain, dan, terutama tentang teman atau kenalan mereka yang saat itu tidak hadir, dapat begitu jahat, keji, dan kasar. Dan orang yang mereka bicarakan, seringkali setelah beberapa waktu, akhirnya mendengar apa yang mereka katakan dan tidak bisa melupakannya seumur hidupnya.

Sekali perkataan jahat terucap, ucapan itu tak bisa ditarik kembali, bahkan mereka terus menambah-nambah dan akhirnya menjadi semakin menyebar dan semakin parah. Mereka telah merugikan kehidupan orang lain dan menyebabkan kerusakan dalam hidup mereka sendiri.

Klinik-klinik terapis dipenuhi orang-orang yang sangat menderita karena perkataan yang ditujukan pada mereka, atau gunjingan orang tentang mereka. Seringkali perkataan itu terus tertanam dalam memori kesadaran mereka; terus terdengan berulang-ulang laksana genderang penderitaan. Kadang kala mereka sejenak berhenti di bawah permukaan, dan berulang kali muncul kembali dengan mengejek dan mencela. Kadang mereka terkubur dalam-dalam di bawah sadar, tetapi lengan guritanya yang menyakitkan dapat mencekik bahkan korbang yang tak terduga samasekali.

Fitnah dan gosip, desas-desus, sindiran dan pembunuhan karakter bukanlah kriminalitas tanpa korban. Kata-kata tidak akan begitu saja lenyap di udara, mereka kembali untuk menguasai, menghina dan mengganggu.

Anda dapat mendidik Anak Anda agar mereka menjaga kata-kata mereka dengan hati-hati dan menghormati nama baik orang lain sama seperti mereka menyayangi nama baik mereka sendiri ketika Anda mengajar mereka pelajaran yang terkandung alam pepatah berikut: “Kalau tidak ada kayu, api akan padam; kalau tidak ada penyebar gosip, perselisihan akan reda.”

———-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s