d. Yang Dapat Dipercaya

UCAPAN YANG DAPAT DIPERCAYA

Kalau berhati-hati dengan apa yang Anda ucapkan, Anda dapat mendidik Anak Anda untuk bisa mempercayai orang lain.

Ketika anak saya, Sis,  berusia lima atau enam tahun, dia sangat suka bermain roller-skate di trotoar di depan rumah kami. Salah satu kegiatan favoritnya adalah mulai meluncur turun  dari depan pintu rumah, dengan secepat mungkin.

Suatu hari, saya baru saja sampai di rumah dari berjalan mengelilingi komplek, saya melihatnya meluncur secepat mungkin seperti biasanya, dan… baru beberapa ayunan kaki, dia mulai kehilangan keseimbangan.
Secara naluriah, dia merentangkan tangannya untuk memegang apa saja yang bisa dipegangnya, akhirnya dia dapat memegang kaca spion mobil kami, dengan suara “klak” dia menarik kaca spion itu sampai lepas, terjatuh dan terhempas ke aspal yang keras.

Saya bergegas menghampirinya, dan melihat bahwa dia sama sekali tidak terluka, kemudian tanpa alasan yang jelas, dan pasti tanpa berpikir lagi, saya langsung berteriak. “Kenapa kamu menarik kaca spion dan membuatnya patah? Kamu baru saja merusak kaca spionku. Kamu tahu untuk memperbaikinya peru biaya lebih dari seratus ribu rupiah? Kamu ini kenapa sih!”

Sis mulai menangis.

Tapi seketika itu juga, saya menyadari kecerobohan saya. Kenapa saya ini? Aku berteriak pada anak berusia enam tahun yang baru saja berupaya melindungi dirinya sendiri agar tidak celaka dengan meraih benda kokoh apa saja. Mengapa saya harus marah kepadanya? Bukan salahnya kaca spion itu patah. Kalau ingin marah, seharusnya saya marah pada perusahan mobil karena memproduksi kaca spion yang begitu rapuh, sehingga dengan mudah dapat dilepas oleh seorang anak kecil.

Saya merasa sangat menyesal memarahi Sis untuk alasan sepele seperti itu, dan saya meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada Sis.

Hari dan bulan terus berganti. Saya sudah lupa pada peristiwa itu. Tetapi nampak jelas Sis belum melupakannya.

Beberapa tahun kemudian, ketika dia sudah di perguruan tinggi, Sis mengingatkan saya bahwa saya telah memarahinya karena telah mematahkan kaca spion saya. “Ayah tidak adil,” katanya. Ayah berteriak memarahiku untuk hal yang bukan salahku. Ayah telah menyakiti hatiku ketika aku kesakitan karena terjatuh.”

Perkataan yang telah saya ucapkan, yang sesungguhnya tidak saya maksudkan, telah menyakiti hati anak saya dan rasa sakit hatinya terus diingatnya sampai sekarang. Karena hal kecil seperti itu, saya telah mengurangi kepercayaan anak saya, karena dalam benaknya, sekali saya bisa berlaku begitu tidak adil, bisa saja saya akan melakukannya lagi.

Ucapanku yang ceroboh membekas dalam dan terus diingat dalam waktu yang sangat lama.

Perkataan Anda punya kekuatan untuk menguatkan atau menghancurkan dunia anak-anak, dan, bisa mengajari mereka untuk mempercayai atau untuk meragukannya.

“Aku tahu, aku berjanji untuk bermain denganmu sore nanti. Tapi aku sangat lelah. Aku tidak dapat melakukannya. Kamu mengerti bukan? Tapi jangan khawatir. Aku janji. Kita akan bermain besok sore, segera setelah aku pulang kerja, aku janji.”

“Aku tahu aku telah berjanji padamu untuk menonton pentas tarimu. Tetapi rapatku terlambat selesai. Kemudian bossku memaksaku untuk bicara. Lalu, jalan pulang macet sekali. Kamu mengerti kan? Tapi jangan khawatir, Aku janji. Aku akan menghadiri pentasmu yang akan datang. Itu enam bulan lagi bukan? Aku akan hadir. Aku janji.”

Perkataan Anda punya kekuatan untuk mengangkat atau menghancurkan kebahagiaan anak-anak Anda serta untuk mendidik mereka untuk mencintai atau membenci diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitarnya.

Apa yang didengar anak-anak Anda ketika Anda bicara pada mereka?

Ketika mereka mendengar Anda berkata, “Aku sayang kamu. Kamu anak yang baik. Aku bangga padamu. Kamu membuatku gembira” – mereka mempercayai Anda dan mereka akan ingat itu.
Dan ketika mereka mendengar Anda berkata, “Bagaimana mungkin kamu melakukan hal semacam itu? Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar? Kamu pasti anak paling tolol di dunia ini. Kenapa aku bisa punya anak goblog seperti ini? Kamu anak tak berguna! – mereka mempercayai Anda, mereka akan mengingat itu.

Perkataan Anda akan bergema dalam waktu yang sangat lama.

Ketika Anda tergoda untuk mengucapkan perkataan yang bisa menyakiti hati seseorang, yang bisa menyebabkan salah pengertian atau hilangnya kepercayaan, Anda bisa menyingkirkannya dengan mengucapkan doa permohonan seperti berikut: “Bimbinglah lidahku dari kejahatan dan bibirku dari tipu muslihat,” karena Engkau tahu bahwa “ada perkataan yang bisa menghunjam seperti pedang, tetapi lidah orang bijaksana mempunyai kekuatan menyelamatkan.”

———-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s