i. Tingkatkan Kesadaran

Seperti juga semua upaya besar manusia, terutama dalam mendidik anak, seringkali Anda bisa belajar ketika Anda mengajarkannya.

Dalam mendidik anak-anak Anda bahwa kebenaran dan kejujuran itu universal dan abadi, pada saat yang sama, Anda akan belajar dari mereka, dengan pasti, bahwa kebenaran baru akan terus muncul dan kejujuran akan terus berkembang.

Anak-anak Anda akan mengajar Anda bahwa kadang kala kebenaran nampaknya tergantung pada sudut pandang seseorang.

Ada orang yang melihat seorang gelandangan hanya mengenakan sebuah sepatu.
Katanya, “Aku kira kamu kehilangan sepatumu sebelah.”
Gelandangan itu menjawab, “Bukan pak. Saya menemukan sebelah.”
Anak-anak Anda akan mengajar Anda bahwa perilaku jujur kadang dipengaruhi oleh waktu dan keadaan.

Mencuri kuda itu salah.
Walau selama tahun-tahun terakhir ini, di kebanyakan tempat, hukuman atas pencurian kuda semakin ringan. Walaupun perbuatan itu sendiri secara moral tetap salah, oleh karena sekarang ini kuda tidak lagi merupakan aset masyarakat yang begitu penting, tidak seperti di zaman dahulu, juga, konsekwensi yang diberikan masyarakat tidak lagi sebesar dulu.

Dalam kata-kata penulis essay Ahad Ha’am, “Setiap generasi mempunyai kebutuhan dan kebenarannya sendiri.”

Maka, bagian dari yang Anda ajarkan pada anak-anak Anda, walaupun Anda mengajarkan amanat moral utama tentang kejujuran dan integritas, penting Anda memahami dan memperhatikan nasihat orang bijak yang mengajarkan, “Jangan membatasi seorang anak pada lingkup pelajaran Anda sendiri, karena dia dilahirkan di waktu yang berlainan.”

Kalau Anda mengkhawatirkan devinisi kebenaran dan kejujuran yang terus berkembang yang bisa membuat Anda bingung dan menyerah, karena Anda menghendaki integritas yang lengkap, uji diri Anda sendiri, juga anak-anak Anda, dengan mengajukan pertanyaan apakah sikap Anda dapat terus bertahan melalui ujian yang diberikan masyarakat dengan demikian ketat.

Alkisah, duapuluh orang rahib pria dan seorang rahib wanita sedang belajar meditasi Zen pada seorang Guru.
Walaupun kepala rahib wanita itu dicukur gundul dan dia mengenakan pakaian sederhana, namun rahib wanita itu tetap nampak sangat cantik.
Beberapa rahib pria diam-diam jatuh cinta padanya, walaupun jelas-jelas itu dilarang. Bahkan salah seorang menulis surat padanya, menyatakan cintanya dan memaksa untuk bisa bertemu secara pribadi.
Rahib wanita itu tidak menanggapi surat itu. Tetapi hari berikutnya, begitu pelajaran terakhir selesai, dia bangkit berdiri di antara para rahib.
Berbicara pada rahib yang menulis surat padanya, katanya, “Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kemarilah dan peluklah aku.”

Sebagai orang tua dan anak-anak, sebagai manusia yang berkomitmen untuk hidup dengan peri laku yang baik, ketika Anda mencari kebenaran dan mengejar kejujuran, bersama-sama, melalui pengalaman Anda yang terus berkembang, Anda dapat membagikan ungkapan perasaan Simone de Beauvoir, yang mengatakan, “Aku merenggut diriku sendiri dari kenikmatan dan kemapanan karena cintaku pada kebenaran. Dan kebenaran memberiku penghargaan yang setimpal.”

———-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s