j. Bijaksana dan Berani

Pada zaman dahulu kala, di suatu negeri yang disebut Jepang, ada sebuah dusun kecil. Di salah satu sisi dusun itu dibatasi oleh laut, dan di sisi yang lain oleh gunung yang tinggi.

Sebagian kecil penduduk dusun itu mencari nafkah dengan menjadi nelayan, tetapi kebanyakan penduduknya, baik pria, wanita maupun anak-anak bekerja di sawah yang terhampar di puncak gunung. Setiap pagi, penduduk desa mendaki jalan setapak untuk bekerja. Setiap sore hari mereka berjalan menuruni jalan setapak untuk beristirahat dan tidur di pondok mereka di desa.

Hanya seorang nenek dan seorang cucunya–yang bernama Hanako– tinggal di puncak gunung, untuk menjaga agar api tetap menyala di malam hari, untuk menakut-nakuti binatang buas yang mungkin akan merusak sawah mereka.

Di suatu pagi, pada saat musim padi berubah berwarna keemasan dan kering, siap dipanen, nenek itu untuk terakhir kalinya menjaga api itu.

Di bawah, para penduduk desa mulai melakukan kegiatannya sebelum mendaki gunung untuk memulai tugas harian mereka.

Seperti yang biasa dlakukan setelah menyiangi bara supaya api terus menyala, nenek itu pergi ke bibir gunung untuk menyaksikan terbitnya matahari. Tapi, pada hari itu, dia tidak melihat matahari timbul. Tetapi yang dilihat membuatnya sangat takut.

Secepat yang dapat dilakukannya, dia berlari ke pondok tempat cucunya tidur, “Hanako” panggilnya, “Bangun! Bangun!”

“Oh, nenek,” sahut Hanako, “Aku masih lelah, Biar aku tidur sebentar lagi.”

“Tidak, Hanako. Bangunlah sekarang juga, lakukan yang ku katakan. Ambil ranting yang terbakar dari perapian itu!”

Hanako tahu bahwa dia harus melakukan apa yang diperintahkan neneknya, karena sebelumnya dia tidak pernah mendengar neneknya demikian tegang.

Tanpa tahu alasannya, Hanako pergi mengambil ranting yang masih terbakar, lalu segera bergabung dengan neneknya yang berdiri di dekat sawah.

Nenek berteriak sambil memberi perintah, “Cepat bakar sawah ini!”

“Tapi, nek,” Hanako mulai menangis, “Kita tidak boleh membakar sawah kita. Ini adalah persediaan makanan bagi dusun kita. Tanpa padi ini, kita semua akan kelaparan.”

“Lakukan apa yang ku katakan!” Perintah neneknya.

Dengan airmata yang mengalir deras di pipinya, Hanako melakukan apa yang disuruhkan neneknya. Dia menyentuhkan ranting menyala itu ke sawah dan dan segera saja padi mereka yang sangat berharga itu terbakar. Segera nampak kepulan asap hitam membubung dari sawah di puncak gunung itu.

Di bawah, penduduk desa melihat asap itu, dan segera saja semua pria, wanita maupun anak-anak berlarian menuju puncak gunung.  Ketika mereka sampai di puncak, mereka semua dapat menyaksikan api yang melalap sawah mereka. Semua padi telah hancur.

“Apa yang terjadi di sini?” mereka semua berteriak. “Dari mana asal mula api ini?”

“Aku yang membakarnya,” jawab nenek kepada semua penduduk desa.

“Apa? Kamu membakarnya? Perempuan tolol! Kamu telah merusak sawah kita. Kita semua akan kelaparan.

Bagaimana bisa kamu melakukan hal setolol itu?”

“Lihat,” kata nenek itu sambil menunjuk ke laut. “Lihatlah badai dahsyat yang sedang bergerak ke pantai. Dalam waktu kurang dari sejam, gelombang raksasa akan menghancurkan dusun kecil kita, dan semuanya akan hancur.”

Orang-orang tercenung sambil mengamati, dan tak lama kemudian, mereka tahu bahwa nenek benar. Badai dahsyat itu menimbulkan gelombang setinggi sepuluh meter yang bergulung ke pantai, dan semua pondok di dusun itu dilumatkan oleh gelombang itu.

Para penduduk desa melihat ke dusun mereka di bawah, yang porak poranda, kemudian melihat ke sekeliling mereka, pada sawah mereka yang habis terbakar, ada seorang pria yang menjerit, “Kita tidak punya apa-apa lagi. Semua telah lenyap. Kita telah hancur.”

Dan seluruh penduduk dusun merintih dan menangis. Namun seorang wanita berkata, “Tidak semuanya hilang. Nyawa kita masih ada. Semua orang selamat dari badai tadi.”

Dan para tetua dusun berkata, “Itu benar, anak-anakku, kita menerima karunia kehidupan. Maka, siang ini, kita akan mulai lagi dari awal. Kita akan membangun pondok baru, dan kita akan menanam padi lagi.”

Tapi sebelumnya, kita harus berterimakasih kepada nenek Hanako. Jauh dari wanita tua yang tolol, seperti yang diucapkan beberapa dari kita tadi, dia sungguh-sungguh sangat bijaksana dan berani. Nenek telah menyelamatkan jiwa kita semua. Karena, kalau kita tidak melihat asap hitam yang dihasilkan api itu, kita semua tidak akan berlari mendaki gunung dengan demikian cepat, dan kita akan terperangkap di antara ombak dan badai.”

Dan selama sisa hidupnya, nenek sangat dihormati oleh penduduk dusun karena kebijaksanaan dan keberaniannya.

———-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s