b. Keadilan Bagi Semua

Anda dapat mengajar anak Anda bahwa orang yang beretika akan dengan bersemangat mengutamakan keadilan dan persamaan bagi setiap manusia – bahkan kalau itu menimbulkan pertentangan batin atau penderitaan.

Ketika saya masih di team sepak bola kecil, team saya tidak sanggup membayar wasit profesional, karena itu ayah dari para pemain memimpin pertandingan secara bergantian.

Persetujuan tak tertulis menyatakan bahwa tak seorang ayahpun yang bisa menjadi wasit pada pertandingan yang salah seorang pemainnya adalah anaknya. Namun sesekali, karena kecerobohan penjadwalan ayah dan anak berada dalam sebuah pertandingan yang sama.

Pada hari saya melihat ayah saya siap memimpin pertandingan, pada mulanya saya merasa sangat malu –bukankah itu merupakan reaksi setiap anak berusia duabelas tahun? Dan kemudian, muncul rasa percaya diri yang aneh. “Hei,” seruku pada rekan se-team-ku, “Kita beruntung. Ayahku tidak menginginkan kita kalah. Dia tahu bertapa berartinya pertandingan ini bagiku.”

Di suatu tempat di balik benakku, aku teringat pada seorang guruku, yang telah mengajar kami sebaris kalimat yang dipetiknya dari buku doa kami yang mengatakan: “Ayahmu adalah hakimmu,” itu berarti bahwa dia akan memperlakukan kita dengan kebaikan dan kelembutan, serta dengan murah hati.

Saya lupa bahwa guru itu juga mengatakan bahwa kalimat itu juga berarti bila “ayahmu adalah hakimmu,” dia akan menghakimi tanpa memihak,  kalau tidak dia akan dituduh berat sebelah atau pilih kasih.

Dan, selain itu semua, dengan meyakinkan saya telah melupakan betapa jujurnya ayah saya.

Selama musim pertandingan team sepak bola kecil itu aku hanya dua kali menendang bola ke gawang, sekali di saat untuk pertama kalinya saya bertanding dan sekali lagi sebelum ayahku mengeluarkanku dari pertandingan.

“Bagaimana mungkin papa melakukan ini padaku?” di rumah aku menangis, “Papa telah mempermalukanku di depan seluruh anggota team ku, di hadapan team lawan lagi, aku tidak sengaja menjatuhkannya.”
Sebagai jawabannya, ayahku menceritakan kisah berikut.

Di sebuah kota kecil, ada seorang hakim, selain dia hanya ada seorang lagi hakim lain, merekalah yang bertugas melayani seluruh sistem pengadilan di sama, dia sangat dihormati karena kebijaksanaannya dan keputusannya yang tidak pernah memihak.

Suatu hari, isteri hakim itu berteriak-teriak menuduh pembantunya, seorang gadis yatim piatu, telah mencuri benda berharga di rumah keluarga itu.

Dengan penuh rasa takut pembantu itu sekuat tenaga menolak tuduhan itu, tapi isteri hakim itu berkata, “Biarlah pengadilan yang menyelesaikan masalah ini.”

Ketika hakim itu mendengar rencana isterinya, segera dia  mengganti bajunya dengan pakaiannya yang terbaik.

“Untuk apa kamu mengenakan pakaian yang bagus itu?” tanya isterinya,

“Kamu tahu tidak pantas kamu menemaniku ke pengadilan. Aku dapat membela perkaraku sendiri.”

“Aku yakin kamu bisa,” jawab hakim itu, “Tapi siapa yang akan membela kasus pembantumu, anak yatim yang miskin itu? Aku berangkat ke pengadilan untuk memastikan keadilan sepenuhnya dilaksanakan.”

Tidak selalu mudah untuk bersikap adil dan bermain dengan jujur, untuk bertindak bijaksana dan berlaku adil, terutama kalau ada banyak yang dipertaruhkan, terutama bila terkait dengan teman dan kenalan, atau bahkan anak-anak Anda, yang kemungkinan akan merasa sakit hati. Namun, menjadi adil dan bertindak dengan adil merupakan ciri orang yang punya etika.

———-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s