Elang Emas

(MP 29)

Seseorang menemukan sebutir telur elang dan menaruhnya di eraman induk ayam. Anak elang itu menetas bersama anak-anak ayam dan menjadi besar bersama mereka pula.

Selama hidupnya elang itu berperilaku sama seperti seekor ayam. Ia mengais-ngais tanah untuk mencari cacing dan serangga, ia berkotek-kotek, mengepakkan sayapnya dan terbang tak seberapa jauh seperti layaknya seekor ayam. Sebab, begitulah lazimnya seekor ayam terbang bukan?

Tahun-tahun berlalu dan elang itupun menjadi tua. Pada suatu hari ia melihat seekor burung perkasa terbang tinggi di angkasa biru, burung itu melayang-layang dengan indah dan lincah melawan tiupan angin, hampir-hampir tanpa mengepakkan sayapnya yang kuat dan berwarna keemas-emasan.

Elang tua itu melihat ke atas dengan rasa kagum.

“Apakah itu?” tanyanya kepada temannya.

“Itu elang, raja semua burung,” kata temannya. “Tetapi jangan terlalu memikirkan hal itu. Engkau dan aku berbeda dengan dia.

Maka elang tua itu tidak pernah memikirkan hal itu lagi. Akhirnya ia mati, dengan masih tetap mengira bahwa dirinya hanyalah seekor ayam saja.

Sekarang aku tersadar sebelum terlambat, aku adalah rajawali perkasa, aku bukan anak ayam! Aku adalah jiwa, aku bukan tubuh, pikiran atau emosi.

———-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s