Piknik

(MP 30)

Sekumpulan eksekutif muda dari sebuah kota besar merencanakan untuk berpiknik bersama-sama, melepaskan ketegangan dan sejenak melupakan kesibukan kerja dan kejenuhan, mereka akan pergi ke pegunungan untuk menikmati udara segar dan pemandangan alam yang indah. Mereka menyewa sebuah bus wisata yang mewah, dengan jendela -jendela yang besar lengkap dengan tirainya.

Di pagi yang cerah itu mereka dengan santai sudah duduk dalam bus. Bus itu berjalan mendaki menyusuri daerah yang sangat indah pemandangannya, danau-danau biru, gunung-gunung tinggi, air terjun yang anggun, lembah-lembah hijau yang subur, taman bunga indah dengan kupu-kupu dan burung warna-warni.

Tetapi sayang tirai bus itu tertutup. Mereka tidak tahu keindahan yang ada di balik jendela bus itu. Selama perjalan mereka terus sibuk menghias kursi terdepan seadanya, kemudian meributkan siapa yang akan duduk di singgasana kehormatan itu, siapa di antara mereka yang patut diberi penghargaan. Mereka terus ribut sampai di akhir perjalanan.

Kalau kita terus sibuk dengan keinginan untuk memperoleh perhatian, pengakuan, kemashuran, pujian, kesuksesan atau kekuasaan, pada akhirnya kita akan kehilangan apa yang kita cita-citakan semula serta kehilangan keindahan jiwa, sehingga kita hidup dalam kekosongan.

———-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s