Penyembuhan Prana

ILMU DAN SENI PENYEMBUHAN DENGAN TENAGA PRANA
Oleh :  Budi Santoso

Sebuah dogma, ‘angin lalu’ atau wacana terbuka?
Kalau kita cermati pandangan dan sikap para alumni yang telah mempelajari ‘Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana’ metoda Grand Master Choa Kok Sui, maka potret dan profilnya sangat beragam, dan berada di antara dua kutub ekstrim.

Kutub ekstrim pertama, memandang ilmu dan seni tersebut sebagai sebuah dogma, mutlak harus dipatuhi aturannya, dan tidak bisa diganggu gugat kebenarannya. Kutub ekstrim kedua menganggapnya sebagai ‘angin lalu’ bahwa: ilmu dan seni tersebut hanyalah sesuatu yang biasa-biasa saja, tak perlu dianggap serius benar.

Sayang, tidak dilakukan penelitian tentang proporsi masing-masing kutub dan berapa bauran diantara keduanya. Namun dari pengamatan secara kasar, mereka yang berada di kedua kutub ekstrim tersebut tidaklah dominan benar. Seperti halnya ‘hukum distribusi normal’, mayoritas almuni berada ditengah-tengah, baik condong ke satu kutub, maupun yang cenderung ke kutub lainnya.

Kita tidak perlu mempersoalkan siapa yang berada di kedua kutub ekstrim tersebut, maupun yang berada diantara keduanya. Yang ingin kita renungkan bersama adalah apakah ‘untung-ruginya’ kita memposisikan diri di salah satu kubu. Mempelajari sebuah ilmu dan atau seni secara ‘angin lalu’, jelas merupakan pekerjaan yang sia-sia, membuang banyak waktu, tenaga, pikiran dan dana. Namun bersikap dogmatis juga sangat berbahaya, karena pada hakikatnya tidak ada kebenaran dan kemutlakan yang sejati di dunia ini.

Seorang bijak yang lahir 2.500 tahun yang lalu dan sampai saat ini namanya tetap berkibat di deretan paling atas manusia paling agung sepanjang masa, bahkan tetap rendah hati, dan tidak pernah merasa dirinyalah yang paling benar. Dalam tindakan nyata ia sering secara terbuka mengakui pendapat orang lain yang memang pada kenyataannya lebih tepat dan ‘benar’ dari pendapatnya.

Dalam diskusi secara informal di lingkup yang sangat terbatas pun, Grand Master Choa Kok Sui sendiri selalu bersikap sangat terbuka, dan bahkan tidak jarang – untuk tidak mengatakannya sering – memuji kelebihan dan keunggulan ilmu dan seni serupa. Itulah sebabnya ia tidak jemu berkunjung ke berbagai negara, dan mempelajari khasanah kekayaan ‘ilmu eteris’ bagi kepentingan umat manusia, maupun bagi kesempurnaan dan pengembangan ‘Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana’ yang dikembangkannya.

Akhirnya dapatlah disimpulkan, bahwa ‘Ilmu dan Seni Penyembuhan dengan Tenaga Prana’ lebih tepat disikapi bukan sebagai dogma, apalagi ‘angin lalu’, melainkan yang paling pas – sesuai dengan visi Grand Master Choa Kok Sui sendiri – adalah memposisikannya sebagai wacana terbuka, yang setiap saat harus terus ‘digugat’ secara kritis, namun tetap dilandasi integritas yang tinggi.

—–51——

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s