Kucing Upacara

(MP 11)
Kisah ini terjadi di sebuah pertapaan di lereng gunung yang jauh dari keramaian. Di sana hidup seorang Guru yang terkenal suci bersama beberapa orang murid dan seekor kucing kesayangan.

Setiap kali Sang Guru bersama muridnya bersiap untuk melakukan doa malam, kucing di pertapaan itu mulai mengeong-ngeong merusak keheningan, sehingga sangat mengganggu mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk berdoa. Agar tidak terus mengganggu, Sang Guru memerintahkan agar kucing itu diikat di kebun jauh dari ruang doa selama upacara doa malam berlangsung dan baru setelah upacara doa malam selesai, kucing itu boleh dilepaskan kembali.

Setiap hari hal itu terus di lakukan sampai Sang Guru meninggal, dan bahkan lama setelah peristiwa sedih itu berlalu, kucing itu masih tetap diikat selama upacara doa malam. Dan setelah kucing itu mati, di carilah kucing lain sebagai penggantinya agar dapat diikat sebagaimana biasa dilakukan selama upacara doa malam berlangsung.

Setelah berabad-abad lamanya, kitab tafsir keagamaan dipenuhi dengan tulisan ilmiah para murid Sang Guru, yang membahas mengenai pentingnya peran seekor kucing dalam upacara doa malam lengkap dengan peraturan-peraturannya.

———-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s