Bunga Teratai

(MP 22)

Aku sungguh risau melihat temanku. Dia bermaksud menunjukkan kepada para tetangganya betapa sucinya dia. Bahkan untuk tujuan itu sampai-sampai dia mengenakan pakaian khusus. Aku pikir, jika orang sungguh-sungguh suci, kesucian itu akan terlihat oleh orang lain tanpa usaha apapun darinya. Tetapi temanku ini berusaha terus agar kesuciannya terlihat oleh para tetangganya. Bahkan dia mengumpulkan beberapa orang murid dengan maksud agar mereka ini menunjukkan kesucian yang dia miliki. Mereka menyebut hal ini dengan “memberi kesaksian.”

Ketika aku melewati sebuah kolam, aku melihat sekuntum bunga teratai yang sedang mekar. Tanpa berpikir panjang aku mengatakan padanya:

“Alangkah indahnya engkau bungaku!
Dan betapa lebih indahnya Tuhan yang telah menciptakanmu!”
Dia menjadi tersipu-sipu karena dia samasekali tidak menyadari keindahan dirinya yang demikian mempesona itu. Dan dia sungguh senang bahwa Tuhanlah yang dimuliakan.
Dia menjadi jauh lebih indah justru karena dia tidak menyadari keindahan dirinya. Dan dia menarik perhatianku, justru karena dia tidak berusaha memikatku.

Tidak jauh dari situ ada kolam yang lain. Di sana aku melihat ada teratai lain yang menjulurkan daun-daunnya kepadaku dan dengan malu-malu kucing berkata: “Lihatlah keindahanku, lihatlah keindahanku! Dan muliakanlah penciptaku!”
Aku segera pergi meninggalkannya dengan perasaan muak.

Teladan yang baik tidak perlu diupayakan. Secara alamiah dia akan memacar dengan sendirinya dari dalam.

———-

Iklan