a. Debu dan Keilahian

Hidup penuh kebaikan dan sopan-santun dimulai dari pengakuan atas nilai masing-masing ataupun nilai setiap manusia yang tak terhingga.

Seorang penulis melihat pada keagungan alam raya yang mengagumkan yang ditinggalinya, dan terdorong oleh kekagumannya dia menulis, “Ya Tuhan, betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi. Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan. Dalam tangisan bayi Kau letakkan dasar kekuatan-Mu.”

Namun kemudian, di tengah kemuliaan-Nya yang besar, dia bertanya-tanya tentang tempatnya: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kau tempatkan, aku bertanya: Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”

Kemudian penulis itu menjawab pertanyaannya sendiri, ini memberinya, dan kita juga, rasa nyaman dan sukacita: “Namun Engkau telah membuat kami hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotai kami dengan kemuliaan dan hormat.Engkau membuat kami berkuasa atas ciptaan-Mu… Ya Tuhan, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi.”

Dalam diri semua manusia, ada percikan Yang Ilahi, serta citra Sang Abadi. Menyadari hal ini, tentu saja, bisa menyebabkan munculnya kesombongan. Namun, seperti yang baru saja dipastikan, itu adalah penyebab munculnya rasa percaya diri dan keyakinan.

Itulah sebabnya legenda lama mengajarkan bahwa setiap manusia harus punya dua saku. Dalam salah satu saku harus ada selembar kertas bertuliskan, :Aku hanyalah debu dan abu.” dalam saku yang satu lagi harus ada sehelai kertas bertuliskan, “Hanya demi aku seorang, dunia diciptakan.”

Bila seseorang merasa demikian angkuh, dia harus mengeluarkan kertas dari saku yang pertama dan membacanya: “Aku hanyalah debu dan abu.”

Bila seseorang merasa kecil hati atau rendah, dia harus mengambil kertas dari saku yang kedua, lalu membacanya: “Hanya demi aku seorang, dunia diciptakan.”

Kita adalah penyatuan dua dunia. Kita terdiri dari debu, tetapi roh kita adalah napas Sang Ilahi.”

Ketika mendidik Anak Anda melihat nilai atau harga seorang manusia, ketika Anda mendidik anak Anda untuk menghormati dan menghargai keunikan masing-masing orang, maka Anda mendidik anak-anak Anda melihat percikan Ilahi dalam diri setiap orang, dan menyentuh percikan Ilahi dalam diri mereka sendiri.

———-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s